Sains dan Atheisme Baru dalam Perspektif Agama

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 7 Januari 2021 - 10:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alumnus sekolah pascasarjana universitas islam

Alumnus sekolah pascasarjana universitas islam "45" bekasi dan Ceo rumah inspiratif indonesia, Alwi Hilir S.Kom.M.Pd.

Monism merupakan filsafat yang mempercayai bahwa antara brain dan mind itu satu entitas, filsafat ini untuk menolak filsafat dualisme yang mempunyai pandangan bahwa manusia mempunyai tubuh fisik dan juga ruh yang bersemayam di otak manusia.

Salah satu pengusung pemikiran ini adalah Descartes yang pernah mengucapkan “cogito ergo sum” atau “aku berpikir maka aku ada”.

Namun perkembangan neurosains, membuktikan bahwa monism benar, bahwasanya secara sains manusia hanya punya otak dan kesadaran, dan kesadaran tersebut bisa ada karena ada hardware otaknya.

Didalam catatan saya, atheisme modern ini tak lepas dari 3 hal utama didalam sains

  1. Bigbang, atau theory penciptaan alam semesta. Dari Prof. Peter Higgs yang mengkonsep Higgs Boson sampai ke Prof. Stephen Hawking merupakan atheis yang mempercayai alam terbentuk tanpa ada campur tangan tuhan
  2. Evolusi. Konsep evolusi, terutama dari Charles Darwin dan Wallace mendorong kemajuan sains terutama rekayasa genetika. Namun masalah evolusi ini, sebenarnya sudah pernah dibahas oleh ilmuwan moslem Al-Jahiz dengan bukunya Al-Hayawan. Dengan theory evolusi ini membuat manusia lebih mempercayai bahwa asal usul manusia berasal dari evolusi daripada ciptaan Tuhan
  3. Neuroscience. Nuerocience ini memperkuat pemikiran monism, bahwa semua mind atau kesadaran manusia merupakan produk otak atau brain semata. Neurocience berkembang pesat, salah satu implementasinya adalah di bidang Artificial Intelligence. AI dikembangkan dari cara neural network manusia sehingga AI saat ini menjadi “Machine Learning” yang sangat mumpuni.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru