Sains dan Atheisme Baru dalam Perspektif Agama

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 7 Januari 2021 - 10:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alumnus sekolah pascasarjana universitas islam

Alumnus sekolah pascasarjana universitas islam "45" bekasi dan Ceo rumah inspiratif indonesia, Alwi Hilir S.Kom.M.Pd.

Saat ini tercatat, hampir semua saintis papan atas adalah atheis. Namun bagi saya pribadi, fanatik kepada salah satu pemikiran baik sains atau agama hanya akan menyebabkan kesombongan baru semata.

Science memang penting bagi ilmu pengetahuan, tapi sains tidak mengajarkan tentang ethic, moral, dan spiritual.

Ludwig Feuerbach sang maestro atheisme dari Jerman mencoba mendaratkan agama, Feuerbach mengatakan bahwa “the essence of christianity is the essence of human feeling”.

Di disisi lain, Richard Feynman, fisikawan yang juga mendapatkan nobel fisika memang atheis, namun Feynman mengatakan bahwa dunia barat atau western civilization dibangun oleh dua hal, yaitu peninggalan agama christian tentang ethic dan juga peninggalan atau warisan budaya barat yang saintifik.

Dengan demikian, dengan kemajuan sains dan teknologi, menurut saya agama tidak bisa ditinggalkan begitu saja, karena agama melatih kita terhadap kemanusiaan, etika, norma, dan yang terpenting adalah spiritual.

Oleh : Alwi Hilir S.Kom.M.Pd, Alumnus sekolah pascasarjana universitas islam “45” bekasi dan Ceo rumah inspiratif indonesia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru