Sebab Kita Semua Adalah Garuda

- Pewarta

Senin, 15 Juli 2019 - 09:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Hari ini kita menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah. Setelah semua kontestasi yang membuat bangsa ini terpolarisasi. Setelah hiruk pikuk perdebatan bahkan caci maki di media sosial atau televisi. Setelah berbagai intrik politik yang menyedot energi bangsa ini. Setelah drama panjang cebong dan kampret. Kita menyaksikan sebuah akhir yang indah.

Hari ini dua negarawan berjumpa. Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Mereka melebur segala ego dan bertemu untuk bersama menjahit kembali apa-apa yang terlanjur koyak. Mereka ingin memberi pesan sekaligus contoh kepada para pendukungnya, kita semua, masyarakat Indonesia: Bahwa demokrasi menyediakan ruang kompetisi sekaligus kolaborasi. Bahwa persaingan bukan untuk saling meniadakan. Bahwa semangat untuk berbuat baik bagi negeri ini tidak bisa dibangun di atas rasa kebencian dan permusuhan.

Hari ini mereka bertemu sebagai dua sahabat, sebagai dua saudara, sebagai dua teladan bagi bangsa. Pilpres sudah usai. Hasilnya telah ditetapkan, final dan mengikat. Tidak ada lagi pendukung 01 dan 02. Jangan ada lagi cebong atau kampret. Ini saatnya bergandengan tangan, bekerja bersama, mewujudkan cita-cita sebagai bangsa dan negara. Ini saatnya menjadi 03, persatuan Indonesia.

“Banyak orang bertanya, mengapa saya belum mengucapkan selamat kepada Pak Jokowi.” Ujar Pak Prabowo sambil tersenyum, para wartawan dan tokoh yang menyaksikan pun mendadak riuh, nuansa kebahagiaan segera menyeruak, “Sebenarnya ada ewuh pakewuh. Saya tahu tata krama. Saya ingin mengucapkan selamat kepada Pak Jokowi secara langsung.” Sambung Pak Prabowo.

Pak Jokowi tersipu. Ia menatap Pak Prabowo yang juga kini memutar tubuhnya untuk menatap ke arah Pak Jokowi, “Selamat, Pak.” Ujarnya sambil menjabat tangan. “Selamat mengemban tugas dan amanah sebagai presiden Republik Indonesia. Selamat berambut putih. Ini amanah dan pengabdian. Saya siap membantu bila dibutuhkan.” Mereka pun saling melempar senyuman, bertukar pelukan.

Hari ini, lewat pertemuan bersejarah ini, kita melihat masa depan. Kita melihat harapan dan hal-hal baik negeri ini bisa kita wujudkan bersama-sama—meski tak akan mudah, tak akan sederhana.

Pertemuan itu dilakukan di atas kereta cepat MRT Jakarta. Sebuah simbol yang kuat tentang progresi dan akselerasi. Tentang impian melesatkan Indonesia ke masa depan. Tentang komitmen bersama mewujudkan Indonesia maju.

“Bisa saja kami bertemu di tempat lain.” Ujar Pak Jokowi ketika ditanya mengapa harus bertemu di atas MRT. “Bisa saja pertemuan dilakukan di rumah Pak Prabowo, atau di istana. Tapi saya tahu Pak Prabowo belum sempat naik MRT, makanya saya ajak naik MRT. Kami putuskan bertemu di sini.” Mendengar ucapan Pak Jokowi itu, Pak Prabowo mengangguk-angguk sambil terus tersenyum.

Benar kalimat itu tampak sederhana. Tetapi bisa kita rasakan ada ketulusan dan nuansa persahabatan yang begitu kuat di sana. Indonesia hanya bisa maju jika kita bersatu di frekuensi semacam ini, jika kita berhasil mengalahkan rasa ingin menang sendiri, mengubur semua benci, melesat ke masa depan.

Maka di manapun kita hari ini, dari Aceh hingga Papua, yang semula 01 dan 02, yang sebelumnya pendukung Pak Jokowi atau Pak Prabowo… Kini kita tak boleh terpecah dan terbelah lagi. Kita kemasi semua sisa pertarungan. Kita buka halaman baru. Kita songsong masa depan gemilang negeri ini… bersama-sama sebagai saudara.

“Hari ini tak ada lagi 01 dan 02. Tak ada lagi cebong atau kampret.” Ujar Pak Jokowi pada penutup pidatonya, “Yang ada adalah Garuda Pancasila.”

“Hari ini jangan ada lagi cebong atau kampret.” Ujar Pak Prabowo dalam penutup pidatonya. “Sebab kita sama-sama merah-putih!”

Hari ini langit negeri begitu cerah. Angin lembut menerpa wajah kita. Pertemuan dua negarawan ini menggetarkan hati kita semua. Kini, saatnya kita berdiri di barisan yang sama. Membentangkan sayap. Bersiap melesat ke masa depan… Sebab kita adalah anak-anak garuda!

Oleh: Fahd Pahdepie. Penulis adalah Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Presiden RI. Kedeputian V Bidang Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan dan HAM Strategis.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

High Tea bertema Winnie the Pooh Disney di SKAI

Jumat, 24 Jul 2026 - 03:47 WIB