Tetap Hormat Kepada Prabowo

- Pewarta

Jumat, 19 Juli 2019 - 10:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Banyak kawan yang mengkritik saya. Mereka tidak bisa menerima kesimpulan saya bahwa Prabowo melakukan pengkhianatan terhadap 90 juta pemilihnya di pilpres 2019 ini. Saya bisa memahami perasaan itu. Dan bisa menerima kritik itu.

Kawan-kawan yang mengkritik saya mengatakan, Prabowo bertemu dengan Jokowi di stasiun MRT Lebak Bulus sebagai strategi untuk mencapai sesuatu yang besar. Bagi mereka, Prabowo tidak berkhianat. Saya hargai pendapat mereka.

Pada kesempatan ini saya perlu mengatakan bahwa saya tetap hormat kepada Prabowo. Saya sepakat Prabowo tidak punya sifat berkhianat. Hanya saja dia telah melakukan langkah yang mengkhianati 90 juta pemilih 02. Lho, kok bisa? Ini apa maksudnya?

Begini analoginya. Ada orang pertama. Seorang petinju profesional kelas berat. Dia juara dunia World Boxing Federation (WBF). Sekaligus juara IBF, WBC, WBO, dll. Tidak ada tandingannya. Petinju hebat. Bakat yang tak tertandingi. Sehingga, tidak heran kalau dia menang bertiju di mana-mana. Membuat lawannya selalu KO di semua ring tinju.

Kemudian ada orang kedua. Bukan petinju profesional. Orang biasa. Tidak punya bakat bertinju. Tak punya sifat-sifat petinju profesional. Dan tak pernah juga berkelahi. Tetapi, suatu kali dia memukul seseorang sampai KO juga. Terkapar pingsan. Sama seperti petinju profesional memukul lawannya sampai tak berkutik.

Orang yang kedua inilah Prabowo Subiantoi (PS). Dia bukan petinju profesional. Tidak pernah membuat orang KO selama ini. Tetapi, pada suatu hari beliau, entah bagaimana, memukul seseorang sampai babak belur. Tak berkutik juga.

Prabowo bukan pengkhianat profesional. Tidak punya sifat-sifat atau bakat pengkhianat. Tak pernah diketahui berkhianat. Tapi, suatu hari dia melakukan tindakan khianat (analoginya: meninju seseorang sampai KO). Prabowo bukan petinju yang turun-naik ring di mana-mana. Analoginya: bukan tukang khianat di mana-mana. Tidak pernah. Namun, di Lebak Bulus beliau melakukan tindakan yang 100 persen dapat disebut pengkhianatan. Analoginya: meninju seseorang sampai terkapar atau KO.

Nah, tindakan Prabowo memukul orang sampai KO itu tetap disebut “meninju”. Tetapi, beliau itu bukan “petinju”. Prabowo telah “berkhianat” tetapi dia bukan “pengkhianat” dalam makna petinju profesional tadi.

Semoga pengumpamaan yang saya uraikan ini bisa menjelaskan perbedaan antara seseorang yang kerjanya berkhianat di mana-mana dengan seseorang yang hanya sekali berkhianat seumur hidupnya. Yang hanya sekali saja seumur hidupnya meninju orang sampai KO sedangkan dia bukan petinju.

Sekali lagi, saya ingin menekankan bahwa saya tetap hormat kepada Prabowo. Tetapi, saya tidak bisa menerima tindakan beliau “memukul orang sampai KO di Lebak Bulus”.

Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggunakan stasiun Lebak Bulus selama-lamanya. Kecuali berganti nama menjadi Stasiun Legitimasi. Apa alasan saya memilih nama ini?

Karena, bila saya menggunakan Stasiun Legitimasi, saya hanya teringat wajah Prabowo saja. Tidak akan terbayang wajah-wajah lain yang waktu itu memenuhi Stasiun Lebak Bulus.

Oleh: Asyari Usman. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru