Apakah dengan alasan kebebasan berekspresi Majalah Charlie Hebdo dan Emmanuel Macron boleh berekspresi seenak udelnya dewek menghamburkan kata-kata penuh makian tentang perihal sara?
Sementara amat marah saat Ahmadinejad pada 15 tahun lalu mengatakan “Holocaust itu hanyalah ilusi, sekadar mitos pembantaian orang Yahudi”.
Jika membaca sejarah, memang ucapan Ahmadinejad bisa jadi keterlaluan, tetapi mungkin itu salah satu cara yang bisa dilakukan oleh dia untuk mengukur sejauh mana orang-orang atau bangsa Eropa dan Amerika menghargai kebebasan berekspresi.
Yang terjadi kemudian, Orang-orang atau bangsa Eropa dan Amerika emosi dan marah bahkan murka, mereka tidak lagi berpatokan pada kebebasan berekspresi yang selalu dipujanya. Di sinilah nampak jelas pemberlakuan standar ganda oleh mereka.
Islam jelas adalah fakta, Nabi Muhammad SAW juga adalah fakta, Kristen dengan Nabi Isa (Jesus) pun fakta. Jika Holocaust adalah fakta, mengapa orang-orang atau bangsa Eropa dan Amerika yang katanya beradab, mempersoalkan fakta-fakta tersebut?
Dalam pandangan agama Islam, wajah Muhammad dilarang keras divisualkan dengan cara dan dalam bentuk apapun, tetapi atas nama kebebasan berekspresi majalah Charlie Hebdo menggambarkan sosok Nabi Muhammad SAW.
Nabi yang ajarannya diikuti miliaran umat manusia di dunia oleh media Perancis itu dengan seenaknya digambarkan sosok Nabi Muhammad SAW yang cenderung menghina dan memprovokasi, di saat umat Islam di seluruh dunia sedang memperingati Maulid Baginda Rasul, bulan Rabi’ulawal tahun ini.
Seharusnya benar jika pandangan berbalas pandangan, pantun berbalas pantun, kalimat berbalas kalimat, tetapi ketika Ahmadinejad menyatakan kebebasan berpikir dan berekspresi tentang Holocaust, orang-orang atau bangsa Eropa dan Amerika emosi dan marah.
Emmanuel Macron adalah salah satu dari sekian pemimpin dunia yang punya pandangan ekstrem terhadap Islam. Dia sesungguhnya seorang ekstrimis, sebab ucapannya telah memprovokasi umat Islam, dan secara nyata mendikotomikan secara jelas antara “kami” dengan “mereka”.
Jika saja Emmanuel Macron bukan seorang presiden atau pemimpin sebuah negara, mungkin ucapannya tidak akan menuai gelombang protes dari negara-negara yang mayoritas muslim.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





