Manusiawi, Emosi dan Marah atas Penghinaan Baginda Rasul

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 2 November 2020 - 13:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Emosi dan marah sebab yang dicintai dihina itu manusiawi, itulah salah satu bukti atas cintanya. (Foto: klikdokter.com)

Emosi dan marah sebab yang dicintai dihina itu manusiawi, itulah salah satu bukti atas cintanya. (Foto: klikdokter.com)

Apakah dengan alasan kebebasan berekspresi Majalah Charlie Hebdo dan Emmanuel Macron boleh berekspresi seenak udelnya dewek menghamburkan kata-kata penuh makian tentang perihal sara?

Sementara amat marah saat Ahmadinejad pada 15 tahun lalu mengatakan “Holocaust itu hanyalah ilusi, sekadar mitos pembantaian orang Yahudi”.

Jika membaca sejarah, memang ucapan Ahmadinejad bisa jadi keterlaluan, tetapi mungkin itu salah satu cara yang bisa dilakukan oleh dia untuk mengukur sejauh mana orang-orang atau bangsa Eropa dan Amerika menghargai kebebasan berekspresi.

Yang terjadi kemudian, Orang-orang atau bangsa Eropa dan Amerika emosi dan marah bahkan murka, mereka tidak lagi berpatokan pada kebebasan berekspresi yang selalu dipujanya. Di sinilah nampak jelas pemberlakuan standar ganda oleh mereka.

Islam jelas adalah fakta, Nabi Muhammad SAW juga adalah fakta, Kristen dengan Nabi Isa (Jesus) pun fakta. Jika Holocaust adalah fakta, mengapa orang-orang atau bangsa Eropa dan Amerika yang katanya beradab, mempersoalkan fakta-fakta tersebut?

Dalam pandangan agama Islam, wajah Muhammad dilarang keras divisualkan dengan cara dan dalam bentuk apapun, tetapi atas nama kebebasan berekspresi majalah Charlie Hebdo menggambarkan sosok Nabi Muhammad SAW.

Nabi yang ajarannya diikuti miliaran umat manusia di dunia oleh media Perancis itu dengan seenaknya digambarkan sosok Nabi Muhammad SAW yang cenderung menghina dan memprovokasi, di saat umat Islam di seluruh dunia sedang memperingati Maulid Baginda Rasul, bulan Rabi’ulawal tahun ini.

Seharusnya benar jika pandangan berbalas pandangan, pantun berbalas pantun, kalimat berbalas kalimat, tetapi ketika Ahmadinejad menyatakan kebebasan berpikir dan berekspresi tentang Holocaust, orang-orang atau bangsa Eropa dan Amerika emosi dan marah.

Emmanuel Macron adalah salah satu dari sekian pemimpin dunia yang punya pandangan ekstrem terhadap Islam. Dia sesungguhnya seorang ekstrimis, sebab ucapannya telah memprovokasi umat Islam, dan secara nyata mendikotomikan secara jelas antara “kami” dengan “mereka”.

Jika saja Emmanuel Macron bukan seorang presiden atau pemimpin sebuah negara, mungkin ucapannya tidak akan menuai gelombang protes dari negara-negara yang mayoritas muslim.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru