Jika Presiden bergeser menjadi Wapres maka nasib “dilupakan” akan sama dengan Ma’ruf Amin. Hilang otoritas kepemimpinan dalam mengelola negara.
Belum lagi jika ada bongkar bongkaran dosa politik saat menjabat Presiden. Sebagai Wapres tentu proteksi kekuasaan menjadi lemah, apalagi jika “dilepas” oleh Presiden.
Jadi terbayang model “mati ketawa cara Rusia”. Seorang warga berteriak “Nikolay goblog” lalu ia ditangkap oleh KGB.
Ia berkelit bahwa yang dimaksud adalah Nikolay yang lain. Tetapi petugas KGB itu tetap bersikukuh “Kalau kau teriak Nikolay goblog, maka pasti itu adalah Kaisar”.
Jika nantinya pak Jokowi siap posisinya hanya sebagai Wapres, sudah barang tentu akan membuatnya imut imut. Rakyat pun tertawa tanpa jeda.
Dan inilah “mati ketawa ala Indonesia”.
Oleh : M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan.
Halaman : 1 2






