Ini soal mindset dan pola hidup. Hanya butuh kebiasaan. Yang pasti, bersepeda itu hemat dan sehat. Sehat jasmani, dan otak anda juga sehat. Kenapa?
Karena anda mengurangi pencemaran lingkungan, dampak kemacetan dan kebisingan di jalan raya. Ini cara cerdas bertransportasi. Kalau ini dihitung pahala, tentu akan jadi catatan amal yang tidak pernah sia-sia.
Sepeda itu alat transportasi, bukan buat gaya-gayaan. Gak perlu sepeda sport atau yang harganya mahal. Gak penting. Sepeda bekas dengan harga murah itu lebih antik dan artistik. Gak kalah nyamannya.
Di sejumlah negara Eropa, pejabat ke kantor naik sepeda itu biasa. Meski pakai jas mewah dan celana mahal. Ini soal pola hidup. Beda dengan di Indonesia.
Baru pejabat eselan tiga atau empat, gayanya gak ketulungan. Pakai sopir dan pengawal pribadi. Akibatnya, rawan korupsi. Karena cost hidupnya terlalu tinggi. Pola hidup macam ini harus diubah.
Di Jakarta, telah dibangun jalur sepeda. Panjangnya 63 KM. Belum seberapa dibanding kebutuhan bersepeda bagi warga Jakarta. Tapi, ini awal yang baik. Ini sudah menjadi bagian dari kampanye hidup sehat dan hemat.
Gubernur Anies Baswedan terlihat terus mengkampanyekan bersepeda. Di bagian belakang mobil gubernur DKI ini, ada sepeda.
Sebelum pandemi, hampir setiap pagi gubernur bersepeda. Sebelum ke baikota, gubernur DKI ini gemar sidak ke ke sejumlah tempat, dan masuk gang-gang perkampungan.
Melakukan inspeksi. Kok gak dikespos? Kenapa gak bawa kamera? Kalau model kampanye seperti itu sudah sangat konvensional. Kuno! Bahkan konyol! Rakyat sudah paham mana kerja dan mana pencitraan. Anies nampaknya gak mau ikut-ikutan.
Kampanye sepeda di Jakarta cukup berhasil. Yang ke kantor menggunakan sepeda terus bertambah. Penjualan sepeda di Jakarta naik 1000 persen. Bahkan saat pandemi, warga Jakarta yang pakai sepeda naik 10 kali lipat.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






