Itulah yang disebut dengan maqom. Tempat di mana seharusnya kamu duduk dalam sebuah bisnis. Betapapun warung itu yang mendirikan atau yang punya saya sekalipun, maqom saya ya tetaplah koki.
Seorang sahabat, sering mendorong saya agar sering-sering mengisi status-status saya dengan informasi menu-menu jualan warung saya. Saya tidak tidak menjawab.
Sekarang bila ia membaca tulisan ini, dia akan tahu alasannya. Alasan yang mendasar.
Tuhan menciptakan tiap manusia sempurna. Makna sempurna ini, diantaranya adalah bagaimana setiap orang telah dibekali keunikan masing-masing. Keunikan yang tunduk pada hukum sunatullah pada tempatnya masing-masing. Itulah maqom.
Dalam bisnis, maqom ini penting. Maqom juga sering disebut dengan kuadran. Pada kuadran mana seorang memilih, ya harus tunduk pada pilihannya itu.
Maka, tidak mungkin setiap orang ber-maqom ganda. Namun, seringkali orang memaksakan diri menduduki suatu kursi yang bukan untuknya.
Bagaimana mungkin seorang yang mengaku sudah bermaqom Sultan, pendiri perusahaan, pemimpin perusahaan itu sekaligus pemiliknya, dengan sadar mengiklankan dirinya sebagai seorang sales?
Bahwa, seorang pemimpin bisnis mesti jago jualan dan ahli seluruh rangkaian proses bisnisnya, tidak harus demikian.
Maka, lahirlah guyonan singkatan CEO itu adalah ‘Chief Everything Officer’. Eksekutif di segala bidang. Makhluk segala bisa.
Meski pada tahap memulai bisnis seorang pionir akan melakukan semuanya, namun tidak semua hal diceritakan kepada publik bukan?
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





