Ketika Semua Berkumpul karena Iman, maka Segalanya Jadi Mungkin

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 3 Desember 2018 - 08:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BA’DA SHOLAT maghrib di masjid dekat rumah tadi, sesi kultum diisi dengan kesaksian salah seorang imam masjid yang ikut hadir dalam Reuni 212 hari ini.

Beliau bersama keluarganya booking sebuah kamar Hotel di Jl. Sabang agar bisa mengikuti rangkaian acara Reuni 212 yang dimulai sejak pukul 03.00 dini hari. Yang beliau rasakan saat menginap di hotel mirip² seperti suasana saat umroh di tanah Haram.

https://opiniindonesia.com/2018/12/02/reuni-kedua-212/

Ketika beliau keluar kamar hotel dan menuju lobby, yang disaksikannya adalah banyak tamu hotel yang berbusana muslim/ah. Dan mereka semua ternyata juga akan mengikuti Reuni Aksi 212 di Monas.

Sekitar jam 2 malam beliau dan keluarga keluar hotel untuk mengikuti Qiyamul Lail berjamaah. Yang luar biasa, sepanjang jalan menuju Monas, sudah banyak orang² dari posko yang menawarkan sekedar minum kopi atau bahkan sarapan.

Malam itu banyak sekali kebaikan yang ia temukan menjelang Reuni 212. Suasana Qiyamul Lailpun demikian khusyuk dan membuat beliau tak dapat menahan tangisnya karena teringat suasana ketika umroh di Masjid Nabawi ataupun Masjidil Haram.

Yang tak kalah membuatnya terpana adalah, ketika ia ikut antrian orang yang ingin buang air di toilet hingga puluhan bahkan ratusan meter. Namun semua berdiri tertib, tak ada yang merasa ingin didahulukan.

Demikian pula saat ada yang membagi²kan makanan. Tak ada cerita orang yang berebut untuk mendapatkan makanan, yang ada orang saling berlomba memberikan makanan apa yang ia miliki kepada orang lain.

Puncaknya adalah, berkumpulnya jutaan massa di kawasan Monas dan sekitarnya tanpa menimbulkan huru hara sebagaimana yang dikhawatirkan.

Sampai kepada kesimpulan, bahwa ketika semua berkumpul karena panggilan hati dan iman maka segalanya jadi mungkin. Yang dikhawatirkanpun seketika sirna.

‘Penyakit’ ummat Islam yang paling ditakutkan bernama ‘Persatuan’ itupun mendadak seperti tak pernah ada ketika hati² ummat terpaut satu sama lain untuk memperjuangkan hal yang sama, yakni semangat pembelaan terhadap Kalimat Allah serta perubahan dan perbaikan negeri demi kemaslahatan ummat. (*)

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru