Masih Adakah Keadilan Pancasila di Negara Tercinta Republik Indonesia Ini

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 18 Desember 2020 - 10:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garuda Pancasila. /Instagram.com/@2nd.princesstitah_.

Garuda Pancasila. /Instagram.com/@2nd.princesstitah_.

OPINI INDONESIA – Negeri ini dijuluki negeri “Gemah ripah loh jinawe”, Negeri ini di juluki negeri ber Ketuhanan, Negeri ini di juluki negeri berperi kemanusiaan, Negeri ini disebut-sebut negeri ber Pancasila.

Namun apakah “slogan-slogan” itu betul ? Ataukah hanya slogan pengharum bau busuk mulut yang penuh kekotoran, kemunafikan, kenajisan, kebohongan dan tipu daya ?

Lalu apa makna dari Pancasila dan keadilan macam apa yang di perintahkan oleh Pancasila ?

Pancasila di susun oleh para pendiri bangsa ini sebagai suatu dasar yang dapat dipakai untuk kehidupan berbangsa dan bernegara ketika Republik yang bernama Republik Indonesia akan didirikan, dimana pada waktu itu para pendiri republik ini mencari suatu dasar bagi landasan filisofi, landasan ideologi dan dasar negara terbentuknya Republik Indonesia.
Maka disepakati sebagai konsensus nasional pada tanggal 18 Agustus 1945 suatu rumusan dasar negara yaitu Pancasila yang berisi :

  1. Ke-Tuhanan Yang Maha Esa,
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab,
  3. Persatuan Indonesia,
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dari ke-5 sila dari Pancasila tersebut, titik tumpuan kehidupan berbangsa dan bernegara bagi semua warga negara adalah ber Ketuhanan, artinya seluruh manusia Indonesia diwajibkan untuk ber Tuhan, tunduk dan taat pada Tuhan Yang Maha Esa, menjauhi segala larangan Nya serta melakukan segala aturan-aturan dan ajaran-ajaran Nya terutama masalah manusia dan kemanusiaan secara adil dan beradab, beradab artinya menempatkan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan sebagai makhluk yang berakhlak, bermoral dan bermartabat.

Itulah esensi dari pengejawantahan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa, sebab apa yang kita lakukan pada sesama kita manusia itulah cerminan apa yang kita lakukan pada Tuhan Allah.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Ragnarok Zero: Global Resmi Diluncurkan pada 18 Agustus

Senin, 17 Agu 2026 - 23:38 WIB