Memotret Tradisi Mundurnya Seorang Presiden Manca Negara

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 27 Oktober 2020 - 13:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Kirgistan, Sooronbay Jeenbekov. (Foto: Instagram @sooronbay_jeenbekov_official_)

Presiden Kirgistan, Sooronbay Jeenbekov. (Foto: Instagram @sooronbay_jeenbekov_official_)

Opiniindonesia.com – Kondisi politk di Indonesia yang sedang panas dengan adanya demo dan tuntutan berbagai elemen masyarakat kepada Presiden Jokowi untuk membatalkan UU Omnibuslaw ternyata masih belum menunjukkan titik terang, justru muncul tuntutan dari beberapa elemen masyarakat agar Presiden Jokowi mundur makin massif bergema.

Disisi lain, aparat keamanan dan Penjabat Tinggi Negara justru melakukan tindakan represif koersif dengan menyebut pendemo sebagai perusuh dan menyebarkan hoaks serta melakukan penangkapan terhadap mereka.

Akan tetapi ternyata di belahan lain di sebuah Negara Muslim di Asia Tengah, yaitu negara Kirgistan, Presidennya justru mundur demi menghindari dari tindakan represif tersebut seperti kekacauan dan pertumpahan darah, akibat adanya demo besar besaran dinegara tsb.

Presiden Kirgistan Sooronbay Jeenbekov menyatakan mengundurkan diri untuk menghindari pertumpahan darah, buntut demo yang berlangsung selama berhari-hari.

“Saya tidak ingin dalam sejarah sebagai presiden yang menumpahkan darah dan menembak warganya sendiri,” ujar Jeenbekov dalam rilisnya, yang diberitakan oleh Kompas.com., 15/10/2020.

“Militer dan pasukan keamanan jelas akan menggunakan senjata guna melindungi bangunan negara. Darah pun terancam tertumpah,” kata dia. “Karena itu, saya meminta kepada kedua belah pihak untuk tidak jatuh ke dalam provokasi,” kata presiden berusia 61 tahun tersebut.

Inilah contoh pemimpin yang baik dan tau diri, tidak mementing diri sendiri dan oligarki mereka demi mementingkan kepentingan rakyatnya.

Dalam sejarah kepemimpinan di Negara kita juga sudah banyak contoh pemimpin yang baik sesuai dengan pembukaan UUD 45 dan Pancasila, selain juga tahu diri, juga sangat mementingkan rakyatnya dan bersedia untuk mundur.

Dalam bincang Breaking News di FUI Channel (Youtube), ketika ditanya oleh AL Ustadz, M. AL Khaththath, tentang kalau presiden tidak mau membatalkan UU Omnibuslaw, Pakar hukum Prof. Dr. H. Eggi Sudjana Mastal, SH, MSI atau lebih dikenal sebagai Bang Eggy, menjelaskan soal ini.

Dia menyatakan bahwa di Indonesia ini tradisi pengunduran diri ini sudah ada sejak presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, selanjutkan juga oleh Suharto, BJ Habibie, dan Gus dur, Karna mereka memakai Konsep Tahu Diri.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru