Membaca Arah Politik Satay House Senayan dan Politik Nasi Goreng

- Pewarta

Senin, 29 Juli 2019 - 13:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Bila kita lihat beberapa waktu yang lalu pertemuan antara Prabowo Subianto dengan Joko Widodo, kemudian ditindak lanjuti pertemuan Prabowo Subianto dengan Megawati Soekarno Putri, bukanlah pertemuan biasa, namun pertemuan tersebut adalah hasil operasi intelijen politik dengan sandi “Politik Sate House Senayan” ala MRT dan “Politik Nasi Goreng” ala Teuku Umar, yang dimainkan oleh “dalang politik” yang sama.

Menu utama dari politik sate house senayan dan Politik nasi goreng adalah “demi bangsa dan negara”, dan ketika Prabowo Subianto disuguhi menu utama tersebut tanpa pikir panjang langsung melahapnya dikarenakan kecintaan dan kesukaan Prabowo adalah menu “demi bangsa dan negara”.

Itulah sisi kekuatan sekaligus kelemahan dari Prabowo Subianto yang sering dipergunakan “kawan” maupun “lawan” politiknya untuk menusuk Prabowo dari depan dan belakang.

Pertemuan Politik Sate House Senayan dan Politik Nasi Goreng bukanlah hal yang sederhana, namun telah di rancang sedemikian rupa oleh “Koki Inteligen” bekerja sama dengan “Koki Politik” untuk menyuguhkan “jebakan” hidangan politik “transaksional” guna mematahkan langkah politik Prabowo Subianto dengan para pendukungnya bersama partai Gerindra nya.

Pertanyaannya apa hubungannya ? Jawabannya adalah hubungan sebab akibat, dimana Prabowo Subianto awalnya oleh para pendukungnya dianggap sebagai “tokoh pembaharuan 2019” di republik ini, sedangkan Partai Gerindra pada Pemilu 2019 ini menjadi kekuatan Partai besar ke-3 yang menjadi perhitungan nasional, regional dan internasional, yang dapat menentukan “geo politik” dan “geo strategi” perjalanan bangsa dan negara ini kedepan.

Berdasarkan bangunan asumsi tersebut maka “operasi Intelijen Politik” oleh “koki inteligen politik” bekerja sama dengan “koki politik” yang ada didalam partai gerindra dimainkan, dengan cara meramu hidangan menu utama yaitu “demi bangsa dan negara” disuguhkan kepada Prabowo Subianto dalam pertemuan “Politik Sate House Senayan” ala MRT dan “Politik Nasi Goreng” ala Teuku Umar.

Jebakan inteligen politik Tersebut akhirnya berhasil untuk menjauhkan Prabowo dari “pendukung militan” nya dan untuk “menggembosi” perjalanan politik Partai Gerindra kedepan khususnya dalam menghadapi pilkada-pilkada serta pemilu 2024 yang akan datang.

“Koki-koki Politik” di internal Partai Gerindra yang telah dibina serta bekerja sama dengan “koki inteligen” politik, mulai memerankan peranannya, bahkan tidak tanggung-tanggung berani menyatakan bahwa “Tidak kuatir elektabilitas Partai Gerindra menurun”.

Ya para koki tersebut dapat berkata demikian karena mereka tidak punya kepedulian terhadap membangun kekuatan Partai yang solid dan besar, yang ada didalam pikiran mereka hanya bagaimana hari ini dapat jabatan dan kekuasaan serta mendapat keuntungan dari kerja sesaat dan sesat mereka tersebut.

Disitu lah Prabowo Subianto terjebak dalam “permainan politik” dengan “hidangan politik” yang harus dihadapinya kedepan bersama Partai Gerindra yang telah ia bangun dengan susah payah sejak 2008, dan kepercayaan masyarakat serta pendukungnya yang telah susah payah ia dapatkan selama ini.

Alhasil lawan-lawan politik Prabowo Subianto akan tertawa sambil berkata “Prabowo…selamat menikmati hidangan politik sate house senayan ala MRT dan nasi goreng ala Teuku Umar, selamat datang dalam jebakan koalisi agar kamu ikut bertanggung jawab atas kerusakan negeri ini”.

Oleh: Nicholay Aprilindo. Penulis adalah Aktivis Polhukham, dan Alumni Lemhannas RI-2011.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru