Nah ketika KH Ma’ruf Amin dan KH Zainut Tauhid masuk, maka keduanya adalah tokoh politik. Personal representasi ormasnya sudah banyak.
Disinilah inkonsistensi terjadi, mestinya berimbang atau netral sama sekali. Jika dibuat peta pun dapat saja orang menilai MUI kini banyak diisi oleh orang yang dapat dengan mudah menjadi kepanjangan tangan Pemerintah. MUI menjadi lembaga politik.
Tapi ala kulli hal, marilah kita lihat saja perjalanan MUI dengan komposisi seperti ini ke depan.
Berupaya untuk berprasangka baik akan konsistensi atau keistiqomahan para pengurus dalam berjuang untuk agama, bangsa, dan negara.
Umat jangan dikecewakan, karena sudah terlalu lama dan sering umat Islam dikecewakan oleh para penyelenggara negara.
Ini Majelis Ulama, dan Ulama adalah “waratsatul ambiya” pewaris Nabi. Bukan kepanjangan tangan dari Umaro.
“Al ulama’ laa yanbaghi an yakun imtidaadan li’umaro”.
Mabruk, selamat berjuang dan berkhidmah demi kepentingan ummah dalam menggapai Jannah berlandaskan syari’ah.
Oleh : M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Keagamaan.
Halaman : 1 2






