Meneladani Semangat Kartini di Era Modern Sebagai Perempuan Mandiri dan Tanguh

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 26 April 2021 - 08:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Kartini. /Dok. Media Apakabar/M. Rifa'i Azhari

Ilustrasi Kartini. /Dok. Media Apakabar/M. Rifa'i Azhari

OPINI INDONESIA – R.A. Kartini merupakan tokoh perempuan pejuang emansipasi, pelopor kebangkitan Perempuan Pribumi Nusantara. Jika melihat latar belakang perjuangan R.A. Kartini, pada masa itu perempuan dilekatkan pada kebodohan, kemiskinan dan ketidakadilan.

Kebodohan selalu melekat akibat dari minimnya akses pendidikan terhadap perempuan Jawa khususnya masyarakat non-priyai. Pada saat itu juga sering terjadi kawin paksa dan poligami. Sehingga perempuan diidentikan sebagai kaum sub-ordinat yang kedudukannya selalu di bawah laki-laki.

Peran perempuan berkutat pada urusan domestik dengan beban kerja yang lebih besar. Pekerjaan domestik yang dilakukan dianggap tidak berharga karena tidak membantu perbaikan ekonomi dalam keluarga.

Dalam perjuangannya R.A. Kartini menekankan pada aspek sosial dan pendidikan. Ia melihat bahwa pendidikan menjadi penting bagi perempuan, sebab pendidikan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan status sosial dan derajat perempuan.

Perempuan yang memiliki wawasan dapat menentukan jalan hidupnya sendiri dan sadar bahwa mereka layak hidup selaras dengan laki-laki.

Upaya yang dilakukan R.A. Kartini pada saat itu adalah menuangkan kritik terhadap Priyai Jawa dan pikirannya dalam bentuk surat. Ia membangun sekolah khusus perempuan di dekat Kantor Kabupaten Rembang.

Kemudian, jika kita lihat pada kondisi saat ini permasalahn yang dihadapi oleh perempuan berkisar pada ranah politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan psikologis.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Ragnarok Zero: Global Resmi Diluncurkan pada 18 Agustus

Senin, 17 Agu 2026 - 23:38 WIB