DUA HARI berlalu, perhelatan terakbar umat manusia di Indonesia yang sanggup mencengangkan dunia itu romansanya masih kuat terasa, sesungguhnya saya pribadi masih belum bisa move-on juga.
Bagaimana tidak, di Reuni Akbar 212 bukan hanya sebatas berkumpul bersama saudara sebangsa, tapi kita bisa menyaksikan langsung parade kesantunan, pertunjukan kepedulian dan perlombaan memberi teladan kebaikan
Berbondong-bondong dari pelosok negeri hadir, mereka rela menabung jauh-jauh hari, untuk menghadiri perhelatan di Ibu kota negeri
https://opiniindonesia.com/2018/12/04/reuni-akbar-alumni-212-wajah-asli-indonesia/
Berjuta-juta manusia tergerak untuk meringankan langkah kaki ke Jakarta dengan hati gembira
Berduyun-duyun mereka hadir, saling berkontribusi, ada yang ingin menyumbangkan sekantung rotinya, sekardus air mineral, setas obat-obatan, ada yang meringankan tangan untuk memunguti sampah, bahkan ada yang hadir khusus menyumbangkan keahlian memijatnya
Mata saya pun tak terasa basah, saat melihat iring-iringan para sahabat tunanetra yang saling memegang pundak melangkah semangat sambil melantunkan shalawat
Mata saya kembali tak terasa sudah basah, manakala melihat adik-adik kecil berikat kepala lafadz tauhid sedang saling menyuapi roti dengan raut muka gembira sekali
Berkali-kali saya mengikuti perhelatan kebersamaan umat ini, tapi berkali-kali juga saya bertanya, Kok bisa semua ini terjadi?
Baca Juga:
Asian Beach Games ke-6 di Sanya Resmi Berakhir, Tim China Menempati Posisi Teratas Klasemen Medali
Reuni 212 disadari atau tidak telah menjadi ruang berpelukan antara ketulusan hati dan pikiran sehat.
Reuni 212 tanpa disadari telah menjadi dermaga, untuk kapal-kapal nurani bersandar sejenak mempersiapakan pelayaran barunya
Reuni 212 diakui atau tidak, telah menjadi panggung pertunjukan paling spektakuler yang menampilkan jutaan pemeran dengan jubah kedamaian
Reuni 212 ke-2 ini yang jelas telah mampu membuat mata saya basah sebanyak 2 kali, saat melihat sahabat-sahabat tunanterta bershalawat bersama, dan adik-adik kecil berikat kepala lafadz tauhid tadi, sedang saling menyuapi roti.
Baca Juga:
CMEF 2026 Resmi Ditutup di Shanghai, Tampilkan Inovasi Medis Global dan Tren Industri Masa Depan
Percayalah, tak ada rumus radikal seperti ini, tak ada teori Intoleran macam begini. Sejatinya, tentu ini yang dinamakan dimensi saling mengasihi.
[Oleh : Kawendra Lukistian, politisi muda. Tulisan ini sudah dipublikasikan di akun facebook pribadi]






