Opiniindonesia.com – Di masa hidupnya, seorang filsuf Yunani dan sekaligus tokoh Sophist yang bernama Protagoras (480 -410 SM) telah meluncurkan konsepsi pengetahuannya yang terkenal: Homo Mensura.
Konsep “Man, the measure of all things” atau yang berarti manusia adalah ukuran bagi segala-galanya, kemudian menjadi landasan para filsuf modern bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau dogma-dogma langit, juga bukan dari kekuasaan feodal, melainkan dari diri manusia sendiri.
Manusia diunggulkan menjadi makhluk otonom yang menentukan dirinya sendiri.
Maka di zaman Renaissance yang berlangsung antara 1400 hingga 1600 Masehi, kita tahu bahwa manusia di era itu dibetot untuk berontak melawan spirit Abad Pertengahan yang masih berdiri di atas dogma-dogma agama dengan metodenya yang skolastik.
Jargon Homo Mensura seolah menjadi lonceng Renaissance yang mendorong manusia untuk melakukan “kelahiran kembali” dan pulang melihat kejayaan era Neo-Platonisme dalam sejarah kebudayaan Yunani Kuno.





