Manusia telah menjadi “Faber Mundi”. Antroposentrisme menggeliat dan menerjang dinding-dinding zaman.
Itulah sedikit potret “hijrah” dalam sejarah kebudayaan masyarakat Barat. Pemutusan diri terhadap masa lalu yang membuat kondisi aktual berada dalam status qua, tanpa kemajuan, dan tidak terjadi peningkatan kreativitas dalam kehidupan, hijrah berarti melakukan perjalanan baru ke arah yang baru.
Hijrah berarti pulang ke pencapaian-pencapaian masa lalu yang baik dan menghadirkannya kembali dalam situasi yang baru dengan semangat yang baru.
Lalu, bagaimana Islam memberi konteks pada terminologi hijrah? Secara bahasa, hijrah berarti pindah ke negeri lain. Memutuskan. Meninggalkan. Berpisah (dengan pasangan) tanpa menceraikan. Berjalan.
Namun demikian, peristiwa hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, sejatinya telah menjadi momentum bagi umat Islam untuk melakukan transformasi keIslaman agar menjadi lebih baik dan aktual.





