Lahir di tengah kondisi kekufuran dan kejahiliyahan yang akut, penistaan kaum anak dan perempuan, sistem perbudakan yang menggila, Islam lalu menjadi oase.
Ia hadir untuk menjelaskan kebuntuan-kebuntuan zaman yang dihadapi akibat manusia telah menjadi penguasa atas manusia dan penakluk alam.
Islam menegaskan diri sebagai agama hanif, yang berisi ajaran-ajaran kepasrahan total hamba kepada Allah Sang Pencipta, namun aktif dalam ikhtiar-ikhtiar manusiawi sebagai khalifah di atas muka bumi.
Maka iman, sebagai infiltrator yang menjaga keseimbangan peran kehambaan dan kekhalifahan, menjadi mesin yang harus dijaga dan digerakkan untuk melahirkan energi ihsan dan pusaka ikhlas.
Di sinilah kita bisa melihat Islam memberi arti bagi upaya menanggulangi efek negatif antroposentrisme, yaitu ketika hijrah juga digerakkan untuk melahirkan kesalehan sosial dan kesalehan spiritual.





