Ilmu pengetahuan, teknologi, sastra, seni, dan media kehidupan sosial lainnya kini semakin maju berkat pesatnya kemajuan teknologi di bidang komunikasi, informasi, dan transportasi.
Tentu tantangan Islam agar bisa mengajak umatnya tidak larut dalam kemajuan dunia menjadi persoalan sendiri, agar di sisi lainnya umat Islam tidak sampai ketinggalan zaman.
Umat Islam perlu setepat mungkin memaknai firman Allah dalam surat Al Qashash, ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Estafet hijrah, dengan demikian, harus terus dipertahankan di setiap jiwa manusia. Kerusakan di muka bumi terjadi ketika estafet hijrah telah berhenti, sehingga tidak ada lagi kemajuan-kemajuan kehidupan di muka bumi.
Namun kerusakan di muka bumi ini juga terjadi ketika estafet hijrah dilakukan secara berlebihan, sehingga kemajuan-kemajuan yang dilahirkan hanya berbuah kesombongan yang menabrak batas-batas keniscayaan manusia sebagai hamba dan khalifah sekaligus. Dalam pengertian tertentu: manusia mungkin perlu hadir sebagai viator mundi, namun sekaligus sebagai faber mundi.
Oleh : Chavchay Syaifullah, (Budayawan, Direktur Eksekutif Rifa’i Center, tinggal di Banten)





