Antara penghormatan terhadap kinerja manusia dan kepatuhan pada takdir Allah. Maka sesungguhnya kita butuh satu prosesi hijrah dari luar ke dalam, menukik ke kedalaman jiwa melalui jalan spiritual.
Apa itu jalan spiritual, mari kita simak syair Jalaluddin Rumi berikut:
“Jalan spiritual adalah menghancurkan tubuh dan setelah itu memperbaikinya demi kemakmuran / Hancurkan rumah itu demi harta keemasan, dan dengan harta itu pula bangunlah rumah yang lebih baik daripada yang sebelumnya / Bendunglah air dan bersihkanlah dasar sungai, kemudian biarkanlah air minum mengalir ke dalamnya / Torehlah kulit dan cabutlah duri, kemudian biarkan kulit segar tumbuh menutupi luka.”
Jalaluddin Rumi, penyair mistik terbesar Persia yang lahir pada tahun 1207 di Balkh, sebuah kota di provinsi Khurasan, Persia Utara, memberi kita kesan kuat bahwa manusia harus terus menerus melakukan hijrah spiritual agar manusia bisa melihat bahwa dirinya bukanlah apa-apa.
Dengan demikian, jiwa manusia terus mencari dan mencari. Estafet hijrah pun terjadi.
Dalam syair lainnya Rumi pun menjelaskan:
“Para raja menjilat bumi tempat pekan raya terjadi / Karena Tuhan telah bercampur dalam bumi yang berdebu / Seteguk keindahan tercecap dari cawan pilihanNya / Inilah dia, cinta terkasih, bukan bibir tanah liat ini / Yang kauciumi dengan ratusan kenikmatan / Lalu bayangkan, apa yang mesti terjadi bila dirimu suci!”





