Buat Award Kebohongan, PSI Makin Tenggelam

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 4 Januari 2019 - 23:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GRACE NATALIE (GN) dan kawan-kawannya menyangka bahwa pemberian award kebohongan dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kepada Prabowo dan Sandi, akan membuat nama capres dan cawapres itu ternoda. Keliru total. Tak akan pernah.

Sebaliknya, award kebohongan akan dianggap oleh rakyat sebagai kampanye hitam (black campaign) terhadap Prabowo-Sandi. Rakyat malah akan semakin memperkuat dukungan untuk paslon 02 ini. Sebab, yang berbohong bukan Prabowo-Sandi. Dari mana mereka bisa dikatakan berbohong? Mereka tak pernah melanggar janji kepada rakyat.

http://opiniindonesia.com/2018/10/22/inilah-saatnya-rakyat-kita-mengakhiri-politik-kebohongan/

Yang justru berbohong adalah Jokowi. Seluruh rakyat tahu itu. Mereka tak lupa pada 66 janji Jokowi yang sebagia besar tinggal janji. Artinya, Jokowilah yang jelas dan terang-benderang melakukan pembohongan.

Agak mengherankan kenapa para pengurus PSI menjadi ‘tidak cerdas’. Award kebohongan itu menunjukkan kebodohan GN dan kawan-kawan. Award ini merupakan ‘dirty job’ yang akan merugikan PSI sendiri. Yang akan menjadi bumerang.

Seharunya GN tidak berinisiatif yang kontra-produktif seperti ini. Awarad itu merupakan muslihat partai-partai besar di koalisi Jokowi untuk menghancurkan total Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

PSI ‘dikerjai’ oleh partai-partai kolisi Jokowi. Partai-partai besar pasti tak mau menyerang pribadi Prabowo-Sandi. Karena akan berbalik kepada mereka. Yang menggagas award kebohongan itu akan dihukum di bilik suara pileg 17 April 2019.

Bagaimana logikanya? Award itu akan semakin memperkuat simpati rakyat kepada Prabowo-Sandi. Membuat rakyat semakin yakin bahwa Prabowo-Sandi sangat ditakuti oleh partai-partai dan orang-orang korup.

Partai-partai besar di koalisi Jokowi paham bahwa memberikan award kebohongan kepada Prabowo-Sandi akan merusak nama baik mereka sebagai kekuatan politik yang menjadi panutan. Kekuatan yang dianggap matang. Partai-partai besar itu merasa mereka adalah pemain santun dan berakhlak.

Sekarang, posisi PSI semakin runyam. Sudah dicap anti-Islam (anti-syariah), sekarang ditambah main kampanye hitam.

Entahlah kalau mereka melakukan “sekali mandi, biarlah basah kuyub”. Artinya, mereka pun disurvai oleh Denny JA tidak bakal masuk ke DPR. Barangkali, ke DPR juga belum tentu masuk, sekalian saja serang pribadi Prabowo-Sandi. Semakin dipastikan tenggelamnya.

Tetapi, GN dan kawan-kawan masih punya waktu tiga bulan. Sekarang, mereka bisa menyampaikan permintaan maaf kepada Prabowo-Sandi atas award kebohongan itu. Pasti dimaafkan.

Ini langsung kepada Grace Natalie: segera tarik lagi award yang tak memberikan ‘political gain’ apa-apa kepada kalian. Setelah itu, lakukan kampanye positif. Jalin komunikasi politik dengan orang-orang yang kalin anggap musuh.

Dari mana Anda belajar politik, kok sejal awal berdiri Anda telah menyiapkan musuh-musuh Anda? Tak punya musuh saja belum tentu bisa mulus tampil menjadi partai yang diperhitungkan.

Belum apa-apa sudah Anda jadikan Prabowo-Sandi sebagai musuh. Anda posisikan Islam dan umat Islam sebagai sistem nilai yang akan Anda hancurkan. Ada apa dengan jalan pikiran Anda, Bu Grace Natalie? (*)

[Oleh : Asyari Usman. Penulis adalah wartawan senior]

(*) Untuk membaca tulisan Asyari Usman yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru