Gelora PRABOWO, Gelora BUNG KARNO

- Pewarta

Senin, 8 April 2019 - 11:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Dari segi estetika ritme, ungkapan “Gelora Prabowo, Gelora Bung Karno” memang sangat pas. Jauh berbeda dengan ungkapan “Gelora Jokowi, Gelora Bung Karno”. Yang kedua ini terasa “tak masuk Pak Eko”. Tidak alami. Tak bersambut.

Tentu semua ini tidak berlangsung secara kebetulan. Menurut hukum kejadian, Allah al-Khaliq telah menyiapkan takdir “Gelora Prabowo, Gelora Bung Karno” itu dari alam asalnya. Dalam hadits shahih Muslim, Abdullah bin Umar r.a. mengatakan Rasulullah SAW bersabda bahwa takdir atau qadar semua makhluk telah dibukukan oleh Allah SWT 50,000 (lima puluh ribu) tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.

Begitu juga kampanye akbar Prabowo Subianto yang dilaksanakan hari Minggu, 7 April 2019, di stadion Gelora Bung Karno (GBK). Sudah ditentukan tempatnya, dan ditetapkan semua aksesorinya. Termasuklah ritme yang sangat enak didengar telinga, yaitu “Gelora Prabowo, Gelora Bung Karno”.

Sebaliknya, ditetapkan pula ritme yang tak enak di dengar, Yaitu, “Gelora Jokowi, Gelora Bung Karno”. Tak akan pernah sedap di dengar meskipun Jokowi ratusan kali melaksanakan kampanye di stadion GBK. Jadi, para penggemar Pak Jokowi perlu memahami bahwa ‘privilege’ (keistimewaan) ungkapan “Gelora Prabowo, Gelora Bung Karno” memang benar-benar luar biasa.

Berdasarkan keistimewaan ritme ini, ditambah dengan ‘privilege’ lain berupa kehadiran jutaan orang yang datang secara sukarela dengan biaya dan risiko sendiri, sungguh tak mungkin lagi dipaksakan kemenangan Pak Jokowi. Tanda-tanda yang ringan ini saja pun menunjukkan keberpihakan alam kepada Pak Prabowo. Menunjukkan kemenangan Pak Prabowo di pilpres.

Kondisi serba pas itu terlihat dari ciri-ciri lain. Misalnya, Prabowo dan Soekarno sama-sama memiliki kebolehan orasi yang mampu membangkitkan semangat khalayak. Bung Karno berapi-api, Prabowo juga seperti dibakar kalau beliau menyampaikan pidato.

Stadion Gelora Bung Karno akan mencatat Gelora Prabowo. Yakni, gelora orasi beliau di depan jutaan massa, hari ini (7 April). Akan membukukan Gelora kemenangan Indonesia. Kemenangan prinsip demokrasi tulus-ikhlas, jujur dan adil. Bukan demokrasi berbayar. Yaitu, demokrasi yang menghadirkan khlayak dengan bayaran.

Kepada Pak Jokowi kita memohon agar selalu bersabar dan tabah menerima ‘kondisi kekalahan’ yang telah ditakdirkan 50,000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Dan, perlu lebih tabah lagi ketika ‘kondisi kekalahan’ itu berubah menjadi ‘kekalahan’ pada 17 April 2019.

Banyak yang mengatakan bahwa kampanye akbar di GBK hari ini akan menjadi barometer kemenangan Prabowo. Sebetulnya, barometer itu sudah bertebaran di mana-mana. Di mana saja Pak Prabowo atau Bang Sandi berkunjung silaturahmi maupun berkampanye, di situ ada massa yang menjadi barometer.

Untuk Pak Prabowo, selamat berkampanye 7 juta massa. Gelora Bung Karno untuk Gelora Prabowo.

Oleh : Asyari Usman, adalah Penulis wartawan senior.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru