Korban Nyawa dalam Melawan Kedzaliman

- Pewarta

Jumat, 24 Mei 2019 - 07:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Sejarah perjuangan untuk menyingkirkan kemungkaran yang dilakukan oleh para penguasa zalim di mana pun di dunia ini, tidak pernah berlangsung tanpa korban nyawa. Sebab, penguasa yang zalim tidak pernah tiba-tiba tobat dan mundur teratur dari kezolimannya. Sehingga tak perlu jatuh korban ketika ada protes dari rakyat mereka.

Justru penguasa yang tidak zolim yang malah sering kita lihat mengundurkan diri. Sebagai contoh adalah masyarakat Jepang dan masyarakat Barat yang terbiasa menghormati kritik dan kehendak rakyat.

Di Indonesia, sejarah menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kezaliman selalu menelan korban jiwa. Nah, sia-siakah pengorbanan nyawa itu?

Sama sekali tidak. Tidak pernah sia-sia. Alhamdulillah, kezaliman demi kezaliman masa lalu bisa dihentikan. Sekaligus, situasi kehidupan menjadi lebih baik. Sebutlah kezaliman penjajahan Belanda, kezaliman penjajahan Jepang, kezaliman Orde Lama, kezaliman Orde Baru, dll, bisa dihentikan berkat pejuangan keras rakyat. Berkat pengorbanan berat, termasuk korban jiwa.

Hari ini, rakyat kembali menghadapi kezaliman para penguasa. Kesewenangan. Keangkuhan. Kesombongan. Kemungkaran masif dalam pelaksanaan pilpres, berlangsung secara terbuka. Kemenangan Prabowo dirampok. Seluruh proses perampokan ini difasilitasi dan dibentengi oleh para pemegang kekuasaan.

Peluru keangkuhan menewaskan sejumlah orang. Sekarang, para pemimpin pasukan keamanan telah berlumuran darah. Mereka akan memikul tanggung jawab di dunia dan di akhirat kelak.

Di dunia, mereka akan dikejar-kejar hukum dunia. Di akhirat, mereka akan ditanyai tentang pembunuhah yang terjadi setelah pengumuman hasil pilpres yang diprotes itu.

Tidak tertutup kemungkinan hukuman dunia untuk mereka akan turun dalam bentuk keruntuhan kesombongan mereka. Dalam bentuk keruntuhan kekuasaan yang mereka bentengi dengan persenjataan lengkap itu.

Rakyat bersatu menghalau para pelaku kemungkaran yang telah berlumuran darah. Keruntuhan kesombongan itulah yang membuat pengorbanan jiwa menjadi tidak sia-sia.

Oleh: Asyari Usman. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru