Akan Muncul Gelombang Perlawanan Cerdas

- Pewarta

Senin, 1 Juli 2019 - 09:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Ada kecerdasan yang digunakan untuk kejahatan. Tetapi, hampir pasti akan ada kecerdasan yang lebih mulia lagi. Yaitu, kecerdasan yang digunakan untuk melawan kejahatan, kezaliman, dan kesewenangan.

Saya memperkirakan umat Islam garis lurus akan melancarkan perlawanan yang cerdas (smart resistance) terhadap kejahatan dan kesewenangan para penguasa. Perlawanan cerdas itu memang memerlukan kerja keras semua orang. Perlu komitmen yang tak kenal lelah. Perlu ‘endurance’ (keuletan, kegigihan). Sehingga, perlawanan itu akan menjadi gelombang besar. InsyaAllah.

Di media sosial sudah langsung muncul bentuk perlawanan cerdas itu. Kemarin, setidaknya ada dua tulisan menarik yang melambangkan ‘smart resistance’ itu. Yang satu ditulis oleh Bung Azwar Siregar dan yang satu lagi tidak ditemukan identitas penulisnya.

Mereka ini mengusulkan agar Pak Prabowo dan Bang Sandiaga Uno segera membentuk bank yang bisa menampung dana umat Islam. Usulan ini sangat praktis dan aplkikatif. Bisa dikerjakan. Bisa dikembangkan secara luas dan cepat. Apalagi, menurut mereka, Bang Sandi memiliki latar belakang bisnis yang sangat solid.

Bung Azwar bahkan ikut mengusulkan nama bank umat itu. Yaitu, Bank Pembangunan Nasional (BPN). Yang satu lagi mengusulkan nama Bank Persaudaraan Negara atau Bank Persaudaraan Nasional (BPN juga).

Mereka mengusulkan nama BPN sebagai bentuk pengabadian perjuangan Prabowo-Sandi bersama umat dalam upaya untuk menegakkan keadilan dan kemakmuran. Nama ini juga sangat cocok untuk terus menghidupkan ingatan kaum muslimin tentang perampokan kemenangan demokratis umat.

Reaksi netizen sangat positif. Banyak yang malah tak sabar menunggu kehadiran BPN karena mereka segera ingin memiliki rekening di situ. Banyak siap hijrah ke Bank BPN begitu bank ini muncul.

Pengusul optimis. Begitu juga netizen. Mereka yakin Bank BPN bisa tampil menjadi bank terbesar di Indonesia atau bahkan di Asia Tenggara.

Ada pula yang membuat meme yang sangat bagus tentang perlunya umat memiliki bank sendiri. Pembuat meme menamakannya Bank Syam singkatan untuk Bank Syariah Adil Makmur.

Itu baru salah satu bentuk perlawanan cerdas. Ada banyak lagi gagasan yang sangat bisa dikerjakan asalkan umat menyadari dan berdisiplin untuk mendukungnya, menyukseskannya Sebagai contoh, umat bisa bekerjasama berbasis kejemaahan untuk mengembangkan sektor ritail. Sebenarnya sudah ada, seperti “212 Mart”, Minimarket Sodaqo, KitaMart, dll.

Tetapi, kehadiran gerai-gerai milik umat itu masih memerlukan pembinaan manajemen dan pengembangan bisnis yang lebih serius. Ini bukan masalah besar, insyaAllah. Yang diperlukan adalah komitmen mayoritas umat dan para pemuka bisnis umat.

Di bawah pimpinan Pak Prabowo dan Bang Sandi, diperkirakan pengelolaan ekonomi umat sangat berpeluang untuk sukses.

Ada contoh lain lagi. Misalnya, umat bisa membangun jaringan bengkel mobil dan motor. Bisa juga berkpirah di sector manufaktur. Sektor ini memang sudah banyak dimasuki tetapi sifatnya mungkin masih individual. Sementara yang diperlukan adalah gerakan yang berjemaah dan lebih terarah. Sehingga, bisnis yang dikelola umat bisa menjadi profesional dalam bingkai kesyariatan.

Untuk menodorong keikutsertaan lapisan milenial, bisa pula didorong kelahiran dan pertumbuhan retail online atau Olshop. Sektor ini pun sangat potensial. Dan sangat mudah memperkenalkan serta mempromosikannya di kalangan umat.

Pengembangan bisnis umat bisa menjadi ‘unlimited’, tak terbatas. Begituah kira-kira. Karena semua sektor bisa diekplorasi dan diekploitasi. Sebagai contoh, umat memerlukan penginapan yang nyaman dan berbasis syariah. Umat juga perlu resort-resor wisata yang family-friendly, yang cocok untuk keluarga.

Ada satu usaha yang sangat potensial untuk dikerjakan dan sangat relevan dengan keperluan umat. Yaitu, penggilingan gabah (padi) sampai menjadi produk yang memiliki kemasan bagus. Sangat mengherankan sekali mengapa bisnis penggilingan gabah ini tidak dikerjakan oleh umat.

Padahal, yang bertani padi adalah umat dan yang membeli beras adalah umat. Dan perlu diingat bahwa bisnis ini bukanlah pekerjaan yang memerlukan modal besar. Sayangnya, di seluruh pelosok Indonesia mayoritas bisnis penggilingan padi profesional dan berkualitas bukan dikelola oleh umat maupun individu umat.

Jadi, konsep perlawanan cerdas itu bukanlah sesuatu yang utopis. Asalkan umat memiliki kesadaran, tekad dan komitmen yang kuat. Saya yakin sekarang ini adalah momentumnya. Pengalaman pahit penipuan dan perampokan pilpres 2019 ini kita jadikan ‘turning point’ (titik balik) dan ‘stepping stone’ (batu loncatan) untuk membangun kekuatan ekonomi umat.

Kita tidak memerlukan bisnis-bisnis yang dikelola oleh orang-orang yang ‘tidak kita kenal’ itu. Kita harus menghentikan ekploitasi dana umat oleh mereka. Umatlah yang lebih pantas mendapatkan kemaslahatan dari proses produksi dan perniagaan yang berlangsung di seluruh pelosok negeri.

Jangan pernah berkecil hati, apalagi patah semangat, meskipun umat jauh tertinggal di bidang perekonomian dan bisnis. Yakinlah, kita bisa melahirkan bisnis umat yang modern dan profesional.

Kita bisa mengumpulkan para pelaku bisnis yang saat ini menyadari kelemahan umat di bidang ekonomi dan bisnis. Mereka akan memberikan masukan dan pelatihan.

Semoga segera hadir Bank BPN, Umat Online Retail, Umat Shopping Centre, Umat Business Centre, Umat Business Training Centre, Umat Bengkel Mobil, Umat Bengkel Motor, yang dijalankan secara, profesiona, jujur dan transparan.

Oleh: Asyari Usman. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Praktik Integrasi “Eco+” Ningbo Ditampilkan dalam Forum SCO

Selasa, 28 Apr 2026 - 18:30 WIB