Kebangkitan Ekonomi Indonesia : dari Sugianto Hingga Sandiaga

- Pewarta

Selasa, 2 Juli 2019 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Sekali Lagi, Tentang Bank Infaq wacana atau diskursus Inklusi Keuangan di Indonesia tak sampai 49 persen persoalan serius.

Artinya perputaran uang di Indonesia hanya dapat diakses dan dimanfaatkan 49 persen dari total jumlah penduduk negara tersebut.

Bahkan bisa jadi jumlah itu mengecil jika kita lihat data perputaran uang masuk lebih dominan dari perputaran perusahaan asing. Easy come, Easy Go.

Ironisnya, asumsi kebijakan pemerintah dalam ekonomi terkait inflasi, atau selalu dilihat dari inisiasi awal indikator moneter dalam hal ini perdagangan saham dan atau surat berharga yang pemain terbesarnya bukan dari Indonesia.

Kita tidak pernah lihat gusarnya pemerintah jika ada warkop, warteg yang tutup dan atau Rumah Makan Padang yang tutup.

Karena memang tidak ada hubungan geliat ekonomi jutaan warkop mang Tatang Cs, jutaan warteg di seluruh Indonesia dan rumah makan padang dalam inflation targetting framework Bank Indonesia dan Kementrian Keuangan.

Data dan inisiasi awal yang dibuat Pak Haji Sandiaga Salahuddin Uno bukan tanpa dasar. Bahwa masih sangat sedikit penduduk Indonesia yang sekadar memiliki tabungan dan memanfaatkan layanan perbankan seperti pinjam meminjam.

Bank Infaq Sebagai Solusi

Solusi kecil dengan terobosan Bank Infaq adalah solusi brilian dan praktis di tengah masih minimnya jumlah tabungan (baca simpanan) rakyat dan alokasi pinjam meminjam lebih dimanfaatkan orang yang berusaha di skala menengah atas.

Lihatlah data peminjam di pebankan nasional. Orangnya itu itu saja. Lihatlah piutang murabahan di bank bank syariah? orangnya itu itu saja.

Lalu ajakan Bank Sandi saatnya membentuk Bank Infaq agar orang orang yang sudah berkemampuan perbankan dan mapan secara ekonomi mulai memikirkan apa yang abai dilakukan perbankan nasional.

Bank Infaq sebagaimana namanya adalah dilandasi infaq atau niat dalam ajaran agama islam mampu membuat semangat menabung para kaum muslimin Indonesia.

Pada gilirannya,-saving fund- yang terbangun disalurkan pada usaha yang produktif di sektor mikro dan kecil yang masih sedikit diberikan infrastruktur resmi pemerintah dalam hal ini perbankan nasional.

Ambil contoh awal bangkitnya perekonomian di Indonesia tidak lepas dari kesungguhan Almarhum Sugianto seorang Direktur Kredit membuat terobosan menyelamatkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dari kebangkrutan dengan membentuk Simpedes dan Kupedes pada era awal 90an.

Dunia mengakuinya bahwa BRI adalah laboratorium keuangan mikro dunia.Banyak negara negara Asean mengirim utusannya belajar pada BRI. Bahkan seorang Muhammad Yunus pendiri Grameen Bank sempat belajar pada BRI. Tapi kini? Diakui atau tidak dengan inklusi keuangan 49 persen, Perbankan Nasional wabilkhusus BRI telah abai pada tugas pokoknya.

Berdasarkan pengalaman Sandiaga di sektor keuangan yang teruji dan rasanya bukan tidak mungkin jika perubahan sosial jilid 2 di Indonesia berpangkal tolak dari niat bersama sama membesarkan Bank Infaq.

Infaq dalam ajaran agama islam bisa wajib, bisa juga sunnah. Dalam perjuangan politik hukumnya menjadi wajib buat para pendukung Sandiaga Uno dan menjadi sunah bagi yang belum mendukung.

Tidak ada yang tidak mungkin. Janji Allah Tuhan Yang Maha Esa, segala sesuatu yang dilandasi niat baik. Hasilnya baik. Menjadi katalis dari perekonomian ribawi di bumi Indonesia.

[Oleh: Soemantri Hassan. Penulis adalah Pemerhati Kebijakan Publik]

Opini sudah dipublikasikan Kontenislam.com.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru