PIDATO PAK Prabowo di Boyolali dan Ponorogo diolah sebagai alat-serang oleh musuh politik.
Padahal, keduanya adalah “teasing”. Bukan hina, bully, marah apa lagi caci-maki. Teasing is harmless. Tanpa motif menyerang dan melukai. Buktinya, suara orang tertawa terdengar jelas pada video Boyolali.
https://opiniindonesia.com/2018/11/05/eksploitasi-tampang-boyolali-adalah-puncak-kepribadian-cengeng/
Sedangkan, “teasing” di Ponogoro masuk kategori “Influence teasing” yaitu 1 type teasing yang menurut Psikolog Melissa A. Kay, “…is intended to change someone’s behavior.”
Ajudan dan emak-emak lost control. Saling rebutan Buku “Paradox Indonesia”. Pak Prabowo mengkoreksi. Itu tugas seorang pemimpin yang baik.
BACA JUGA : Dasar Ndeso Kaesang dan Tampang Boyolali Prabowo
Hanya orang Go-Block dan PSI yang mempermasalahkan “teasing” Pa Prabowo.
PSI, Partai Kanak-Kanak Masa Kini bentukan CSIS, kurang memahami arti “bully” dan “teasing”. Perhaps, motto mereka; “Bunyi dulu, mikir belakangan”.
Salah satu ciri khas PSI: name-calling and belittling of others. Singkatnya; Suka nge-bully. Persis perilaku anak kelas 1 SMP.
Baca Juga:
Sigenergy Resmi Melantai di Bursa Efek Hong Kong, Didukung Investor Global Terkemuka
Pedoman Pertama tentang Penanganan Neuropati Perifer untuk Apoteker di Asia Pasifik
Nge-bullies merupakan mekanisme menjadi “cool” bagi anak-anak SMP. Ada semacam “link” antara bully dan popularitas dalam fase mencari jati-diri remaja.
Tiada hari tanpa nyerang dan bully Prabowo-Sandi, Gerindra, PKS, Demokrat dan PAN. Nyinyir all the time dan at all cost. PSI do fit the data on immature and aggressive children.
Sebagai partai underdogs, kayanya PSI cemas dan gamang dalam mencari identitas diri. About their own social standing and ask: Where do we fit in? Who should we hang out with?
Dominance hierarchies help group members find their places, and bullying is among the most primitive ways to establish dominance.
Baca Juga:
CGTN: Pertukaran Budaya Mempererat Hubungan Persahabatan Tiongkok-Vietnam
Krisis Pinjol Indonesia: Tembus Rp100 Triliun, Ini Cara FLIN Bantu Keluar dari Siklus Utang
“Bullying is the repeated, intentional harm of another person. It’s kind of a relic of our primitive history,” kata Dewey Cornell, a forensic psychologist dan ahli bullying at the University of Virginia.
[Oleh : Zeng Wei Jian, penggiat media sosial]







