Manusiawi, Emosi dan Marah atas Penghinaan Baginda Rasul

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 2 November 2020 - 13:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Emosi dan marah sebab yang dicintai dihina itu manusiawi, itulah salah satu bukti atas cintanya. (Foto: klikdokter.com)

Emosi dan marah sebab yang dicintai dihina itu manusiawi, itulah salah satu bukti atas cintanya. (Foto: klikdokter.com)

Opiniindonesia.com – Emosi dan marah sebab yang dicintai dihina itu manusiawi, itulah salah satu bukti atas cintanya. Jika tidak emosi atau marah, perlu dipertanyakan cintanya, meski yang dihina tidak marah atas hinaan itu.

Zaman Baginda Rasul, beda antara seorang mantan preman, sahabat Umar bin Khattab dan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang Alim pada tingkatan emosi kemarahannya.

Jika Baginda Rosul dihina, sahabat Umar bin Khattab langsung ingin membunuh yang menghina tetapi pasti langsung dilarang oleh Baginda Rasul.

Penghinaan berujung pembunuhan, bukan sekali saja terjadi dalam kehidupan. Benar atau salah atas tragedi pembunuhan tidak bisa serta merta bisa langsung dijustifikasi benar dan salah.

Ada penyebab dan faktor yang mempengaruhi pembunuhan baik dari si pelaku ataupun si korban. Terkadang yang membunuh tidak mau disalahkan karena merasa benar, dan yang dibunuh tidak salah karena dirasa benar.

Sebagai pengikut ajaran Muhammad SAW, tentang apa yang terjadi di Perancis, dalam hal ini saya sebagai manusia biasa yang muslim jelas punya perasaan emosi dan marah namun tidak sampai ingin membunuh yang menghina Baginda Rasul.

Namun juga saya tidak punya kemampuan untuk menilai apakah tindakan penghinaan yang disusul pembunuhan sebagai balasannya adalah benar atau salah.

Sebab akan menimbulkan dua pandangan yang berbeda, bukan saja seperti minyak dan air yang tak mungkin bersatu, namun seperti minyak dan api yang mudah tersulut, hingga terbakar.

Coba kita sedikit mengupas tentang soal kebebasan berekspresi yang sangat diagung-agungkan manusia di belahan bumi Eropa dan Amerika yang sekuler, mereka diharuskan tunduk pada kebebasan berekspresi ini.

Kemudian semua orang-orang atau bangsa Eropa dan Amerika bisa membuat majalah seperti Charlie Hebdo yang sacara satir khusus menghina agama, para pemeluk agama dan para penyebarnya.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru