Ayah Bagaikan Lilin di Kala Gelap, Menemani agar Tidak Sunyi

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 12 November 2020 - 09:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hari Ayah dirayakan setiap tanggal 12 November. (Foto: pixabay.com)

Hari Ayah dirayakan setiap tanggal 12 November. (Foto: pixabay.com)

Saya tidak pernah melihat ayah menangis. Walau saat itu, sebenarnya sah-sah saja dia menangis. Hebatnya lagi, dia tidak pula mengeluh.

Sorot matanya tidak pernah putus asa merawat istrinya yang 5 tahun jelang kepergiannya hanya bisa terbaring di tempat tidur. Ayah yang ikhlas, tegar, dan sabar dalam segala keadaan. Karena dia yakin, ada tanggung jawab dan amanah di pundaknya.

Bercermin dari sosok ayah saya, ada pelajaran sederhana tentang ayah:

  1. Seorang ayah itu bukan memberi tahu cara hidup. Tapi dia berproses untuk hidup dan membiarkan anak-anak melihat untuk melakukannya. Ayah tidak melulu “gudang nasihat” tapi justru “replika kehidupan” yang nyata.
  2. Seorang ayah itu mengajarkan jangan terlalu putus asa ketika ada masalah dan jangan terlalu sombong ketika segalanya berjalan baik. Agar tetap rendah hati dan tenang dalam menjalni kehdupan. Karena roda kehidupan akan terus berputar, baik suka maupun duka.
  3. Seorang ayah tidak boleh memusingkan persoalan secara berlebihan. Karena memang hidup tidak ada yang sempurna. Teruslah bersyukur dan ikhtiar yang terbaik. Maka tiap ayah harus terus bergerak dalam keadaan apapun.

Ayah tidak pernah menginginkan anak-anaknya jadi ini jadi itu. Ayah hanya bisa mempertontonkan perbuatan baiknya sebagai tanggung jawab dan amanah. Maka kebanyakan ayah, hanya berpesan kepada anak-anaknya, “jadilah yang terbaik, sebaik yang seharusnya dilakukan seorang anak”.

Tapi sosok ayah hari ini bisa saja berubah. Ayah zaman now. Survei menyebutkan, 52% ayah zaman now lebih senang main gawai daripada main dengan anaknya.

Dan 28% ayah “menyerah” karena tidak mampu jadi contoh untuk anak-anaknya. Alhasil, 3 dari 10 anak Indonesia hari ini merasa tidak diperhatikan ayahnya. Karena ayah zaman now sibuk mengejar dunia.

Ayah zaman now, lebih suka berangkat pagi pulang malam. Berangkat gelap pulang gelap. Ayah-ayah yang cuma bisa buka kaus kaki, ganti baju, baca koran, lalu ngopi sambil main gawai dan baca-baca chat di gawai. Ayah yang tanggung jawab karena mencari nafkah. Tapi belum tentu amanah untuk keluarganya, anak-anaknya.

Berita Terkait

Ketika Layar TV Membesar, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?
Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 13:34 WIB

Ketika Layar TV Membesar, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Berita Terbaru