Hebatnya lagi, netizen itu seperti “tukang debat”. Ada saja yang dikomentari dan diperdebatkan. Salaing berbalas komentar untuk hal yang tidak penting-penting amat. Netizen yang saling adu argument, berdebat agar dibilang ilmiah. Padahal itu semua omong kosong dna tidak berbobot. Kita sering lipa, netizen itu punya banyak masalah. Nah, berdebat itulah yang jadi pelariannya.
Netizen itu bukan maha benar. Tapi maha sok tahu. Tiap kali ada berita atau soal yang tidak disukainya. Netizen buru-buru mencari atau mention teman senasib, teman sealiran. Netizen yang merasa jadi “korban” lalu cari teman senasib.
Itu bukti bahwa netizen itu banyak yang tipikal “baperan”, sulit menerima realitas. Mereka hanya mau keadaan seperti apa yang diinginkannya. Mungkin kalau boleh, netizen pun ingin hidup di surga sendiri. Tidak boleh ada orang lain yang menemaninya, apalagi yang tidak sealiran.
Perilaku netizen paling konyol kian tampak. Netizen seringkali berkomentar tapi belum membaca. Dia sendiri tidak tahu “duduk persoalannya”. Tapi hebatnya, langsung komentar dan menyerang siapapun yang perlu disalahkan menurut dia. Netizen yang bilang “jangan menilai buku dari sampulnya’.
Tapi dia sendiri yang “menguliti” isi buku gara-gara sampulnya. Ujung-ujungnya, si netizen pun sering enggak nyambung, suka salah fokus. Jadi, OOT (out of topic) itu ciri terhebat dari netizen. Bawaannya ke personal dan emosional. Saran yang paling pas untuk netizen adalah “perbanyak baca buku”, bukan perbanyak nonton tv atau ngomongin orang.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






