Merakyat dan Menjunjung Tinggi Kerakyatan di Tangga Halte Bus Way

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 19 Oktober 2020 - 10:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Demontrasi Unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. (Foto : Instagram @rfhd_14)

Demontrasi Unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. (Foto : Instagram @rfhd_14)

Opiniindonesia.com – Kami duduk di tangga ketiga paling bawah dari halte bus way. Di petang yang menyenangkan. Menyenangkan karena petang itu kami baru saja memborong banyak buku. Sambil menikmati kopi di pinggir jalan, kami membicarakan hal-hal penting dan yang kurang penting.

Yang penting tentu saja soal politik negeri ini. Demonstrasi buruh, pelajar dan mahasiswa, menolak undang-undang Omnibus Law yang baru saja terjadi. Membicarakan kawan yang ditangkap karena tulisannya di MEDSOS. Dan Sumpah Mahasiswa, yang pada tahun 80-an dinyatakan di kampus UGM.

Soal Sumpah Mahasiswa itu, setelah lama berlalu, kalau dilihat dari teori interpretasinya Paul Ricoeur atau Clifford Geertz dalam tafsir kebudayaan, Sumpah Pemuda tahu 80-an sebagai eskapisme politik mahasiswa atau plesetan politik, generasi pemuda – mahasiswa.

Sebagai kelanjutan dari generasi tahun 20-an. Yang menyatakan dengan anggun penuh kharisma sumpah pemuda. Generasi Sukarno tentu saja berbeda dengan generasi Mafnan Afnan Malay dan Untoro Hariyadi.

Dan yang tidak penting selalu tentang nasib kita masing-masing. Kawan saya memulai pembicaraan dengan membicarakan posisinya ke depan dalam hidup dan tugas sosialnya.

Setelah tidak menjabat di Istana, waktunya banyak digunakan untuk membaca, menulis dan menyanyi.

“Walaupun kita tidak begitu cemerlang bung, tidak salah kalau kita selalu merayakan hidup dengan bernyanyi,” begitu dia mengawali omongan.

“Bermain gitar, orgen dan drum, sembari menyanyikan lagu grup band The Rollis dan Black Bradres, tentang Hari Kiamat, menandakan kita sehat, jiwa dan raga,” tambahnya.

Setelah tidak menjadi pejabat lagi di suatu pemerintahan, pejabat yang tidak menjabat lagi itu, kembali ke hobinya masing – masing.

Ada yang kembali ke kampus untuk mengajar, ada yang meneruskan usahanya, kalau memang punya usaha. Dan ada yang seperti kawan saya itu, membaca, menyanyi dan menulis. Menulis di media sosial atau di surat kabar nasional.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Ragnarok Zero: Global Resmi Diluncurkan pada 18 Agustus

Senin, 17 Agu 2026 - 23:38 WIB