Merakyat dan Menjunjung Tinggi Kerakyatan di Tangga Halte Bus Way

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 19 Oktober 2020 - 10:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Demontrasi Unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. (Foto : Instagram @rfhd_14)

Demontrasi Unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. (Foto : Instagram @rfhd_14)

“Saya akan menulis tentang Listrik dan dimulainya Peradaban,” lanjutnya mulai serius. “Lho kok soal listrik, bukan politik bung, sergahku.

“Justru itu, saya akan membuat distingsi pada politik, saya akan konsentrasi pada dunia kelistrikan. Karena jabatanku yang baru ini bergelut soal kelistrikan. Walaupun tentu saja saya tidak bicara pada hal teknis,” tambahnya.

Begitu dia bicara kelistrikan, saya teringat Michael H. Hart yang menulis buku 100 ORANG PALING BERPENGARUH SEPANJANG SEJARAH. Hart kebingungan meletakkan pengaruh Michael Faraday dan James Clerk Maxwel dalam bukunya yang mengalami cetak ulang sampai lebih dari 10 kali.

Mana lebih berpengaruh duet antara Faraday – Maxwel dengan Karl Mark. Marx menurut Michael Hart tokoh yang berpengaruh di abad 20. Pada abad 20 pengikut Karl Mark lebih dari satu miliar manusia di dunia.

Setelah runtuhnya tembok Berlin dan komunisme di Rusia, pengaruh Karl Mark mengalami kemerosotan juga bahkan memasuki abad 21 pengaruh Marx sudah menipis. Berbeda dengan Faraday. “Listrik masih ada manfaat 500 tahun dari sekarang,” kata Hart dengan rasa aman.

“Ini zamannya listrik.” Memang benar zaman kita ini kadang disebut zaman angkasa dan kadang disebut zaman atom, namun perjalanan luar angkasa dan sejarah atom – betapa pun potensi pentingnya – hanya punya sedikit pengaruh pada kehidupan sehari – hari kita. Tapi kita memakai peralatan listrik setiap saat.

Bahkan, aman kiranya bagi kita untuk mengatakan bahwa tak ada fitur teknologi yang begitu meresapi dunia modern selain penggunaan tenaga listrik. Begitu yang ditulis Michael Hart untuk melukiskan pengaruh Faraday dan Maxwel, di dunia.

Di tangga bus way itu, kawan saya yang akan jadi komisaris PLN menerawang jauh ke masa kanak-kanaknya. Dia teringat almarhum ayahnya. “Aku kadang diajak ayahku bersepeda ke desa yang belum terang listriknya, untuk menemui teman-temannya untuk berbagai rejeki”, kenangnya.

“Ayahku datang membagikan berkat pada kawannya yang tidak beruntung, kebiasaan baik itu saya ingat dan contoh, bung. Aku juga berbagi walaupun hanya sejimpit,” Begitu dia mengungkapkan perasaan hatinya dengan nada dalam.

“Dulu ayahku pegawai PLN di sebuah desa yang belum begitu maju. Dan yang membuat aku bahagia, bung, sekarang aku jadi petinggi di PLN. Bukan karena jabatan itu atau gajinya. Tapi aku tidak membuat orang tuaku malu, tapi bangga karena aku bisa melampaui pekerjaan dan tanggung jawab yang lebih besar dari yang ditugaskan oleh orang tuaku dulu.” kenangnya.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru