Kesan justru semakin menguat bahwa Habib Riziq — tentu saja dengan segenap pendukung atau pengikutnya — adalah musuh negara lantaran dari perlakuan dari pihak aparat negara sendiri yang membangun tembok pemisah itu semakin menguat.
Komentar miring jauh sebelum Habib Riziq merencanakan pulang hingga saat tiba di Tanah Air gunjingan pada sosok Habib Riziq justru dibuat MD yang oleh aparat sendiri.
Toh, nyatanya acara penjemputan Habib Rjziq yang menjadi bagian dari fenomena sosoknya yang diidolakan itu semakin menunjukkan adanya yang tak beles dalam tata kenegaraan kita yang mendesak untuk diperbaiki.
Jika tidak, maka situasi maupun kondisinya pasti akan semakin memburuk. Sebab kesan yang terus dibangun dari kehadiran sosok seorang Habib Riziq — tentu saja bersama para pendukung serta pendambanya — dianggap jadi pengganggu.
Seharus semua itu dapatlah dijadikan energi bagi bangsa Indonesia guna membangun kehidupan yang lebih baik serta lebih memberi manfaat bagi rakyat.
Termasuk suara rakyat yang patut didengar dengan cara yang bijak. Toh, Machfud MD sendiri sudah berulang kali menasehati, seperti dalam Ketetapan MPR No. 6 Tahun 2000.
Referensi Habib Riziq itu sebagai pemimpin umat karena mau mendebgar suara rakyat. Boleh jadi beliau sungguh khatam belajar budaya Melayu yang mengajarkan : Raja alim pasti disembah, Raja zalim harus disanggah.
Oleh : Jacob Ereste, Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Federasi Bank, Keuangan dan Niaga (F.BKN) K.SBSI.
Halaman : 1 2






