Begitu juga ucapan Sandi kepada ibu-ibu pedang. “Jadi saya pulang aha nih?”
Sontak ibu-ibu berteriak: ” Jangaaan!”
Maka terjadilah momen-momen indah, Sandi akhirnya bisa dengan santai berdialog dan tentu juga ibu-ibu menggunakan momen untuk selfie bersama cawapres 02.
Terus terang, seluruh momen itu biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Namun saya melihat sisi yang lain, yang menurut catatan saya sudah agak langka terjadi.
Keberimbangan dalam liputan di republik ini seperti sesuatu yang sulit sekali diwujudkan, padahal dulu, saat saya kuliah, keberimbangan atau cover bothside itulah ruh utama jurnalisme.
Dan, ketika saya menulis otokritik dengan judul “Rasanya Malu..”, saya malah dibully. Foto saya saat nyaleg dari PAN 2014, serta foto saya bersama pak Amien Rais di Kabah, dipasang dengan komen disuruh ngaca.
Saya tidak menolaknya. Saya memang pernah nyaleg dan saya memang sangat dekat dengan pak Amien. Lalu, apa salahnya saya merasa malu atas sikap pengabaian fakta jutaan umat islam dan agama lainnya berkumpul di Monas (212) tanpa ada keributan alias berjalan damai? Apakah kareba saya mantan caleg PAN dan dekat dengan pak Amien lalu tidak boleh membuat otokritik?
Lebih 14 tahun saya berguru di Kompas dan BOLA (tiga tahun sebagai mahasiswa yang diperbantukan sebagai wartawan pembantu khusus olahraga), begitu banyak ilmu positif yang saya terima. Nilai luhur wartawan yang diajarkan begitu luar biasa.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






