Jadi, jika mereka tidak suka dengan reuni Akvlbar 212, ya tidak apa, tapi ada jutaan umat berkumpul dengan baik, adalah fakta yang tidak pantas untuk diabaikan.
Saya juga paham bahwa posisi wartawan yang dilapangan, pasti sangat sulit. Mereka sudah berusaha keras, tapi kebijakan atasan membuat beritanya jadi tak naik. Saya paham meski ketika saya di Kompas-BOLA, lalu di GO, Nusa Bali, Sinar Pagi, dan Berita Buana alhamdulillah saya tidak mengalami hal itu.
Bos-bos saya masih berpegang pada jurnalisme yang utuh. Akibatnya saya bisa leluasa menurunkan liputan untuk memaparkan fakta. Dan alhamdulillah selalu berimbang.
Apa yang disajikan detiknews hari ini adalah pelajaran yang sangat bergarga untuk kita semua. Sekali lagi, ini bukan soal siapa yang jadi pilihan kita di pilpres 2019 nanti, tapi ini murni otokritik saya pada sahabat-sahabat saya yang masih mengaku jadi bagian pilar demokrasi ke-4.
Sekali lagi saya hanya ingin menjadi pengingat tentang kisi-kisi tugas kita sebagai garda terdepan demokrasi itu sendiri. Untuk itu, saya juga tidak keberatan dengan apapun sikap yang dikemukakan terkait tulisan saya itu, no hard feeling.
Saya justru mengucapkan terima kasih untuk apapun itu. Dari lubuk hati terdalam, mohon saya dibukakan pintu maaf, jika tulisan itu sungguh telah menyinggung. Di benak saya hanya satu, pers hendaknya tetap independen dan tetap jadi pilar demokrasi ke-4 yang sesungguhnya.
Semoga bermanfaat..(*)
[Oleh : M. Nigara. Penulis adalah wartawan senior, mantan Wakil Sekjen PWI]
(*) Untuk membaca tulisan M. Nigara lainnya, silahkan KLIK DI SINI.






