Opiniindonesia.com – Hujan bulan Juni sudah lewat. Berganti Juli yang segera berakhir damai.
Walau pun masih banyak juga yang belum terima damai di hati. Yaitu anak-anak kodok bangkong yang masih saja nyaring kung kang kong sepanjang waktu.
Namun, yang selalu saya syukuri di setiap Juli adalah selesainya semua proyek. Pekerjaan jungkir balik siang-malam hingga begadang berhari-hari lamanya.
Tagihan pun membanjir masuk dompet. Untuk segera mengalir ke parit-parit ladang sawah kebutuhan yang tak berkesudahan 😃
Entah itu kebutuhan anak sekolah, kuliah, tunggakan-tunggakan kewajiban di masa silam, dan sebagainya.
Dan setelah itu, berbulan-bulan hinga Januari tahun depan, akan sibuk nganggur. Hari-hari cuma makan, tidur, klayapan, dan lain-lain.
Kemarin ada orang paling penting di negeri ini memberi nasihat: kita harus tampak sibuk biar suasana krisis akibat Covid ini benar-benar nyata!
Itu saya setuju sekali.
Tetapi, saya jauh lebih setuju seandainya Presiden berkata: tetaplah produktif.
Baca Juga:
SCIE Menunjukkan HILO WAVE® Mendukung Regenerasi Struktur Kulit Tanpa Memicu Respons Peradangan
Tak usah banyak kesibukan apalagi sok sibuk. Nganggurlah yang produktif!
Saya sendiri, biar tampak sibuk, sudah seminggu ini coba baca-baca buku. Kebanyakan novel. Biar jiwa, hati, dan pikiran ini tetap hidup.
Gak cuma uang, uang, uang, dan uang saja yang dipikirin. Walau itu sangat penting.
Ada warna-warni dunia di sekitar kita yang seringkali terlewat oleh perhatian mata hati kita. Sekali waktu penting untuk kita baca. Kita resapi. Kita hayati.
Baca Juga:
Menuju Era Jaringan 2030: WBBA Luncurkan AI-Net, Sertifikasi Komunikasi Data Berstandar Global
Terobosan Teknologi di Balik Smart String Grid-Forming ESS Platform Generasi Baru Huawei
Agar kita mampu mengambil makna hidup darinya.
Oleh : Anab Afifi, adalah seorang konsultan komunikasi dan penulis Buku







