Kurva Covid-19 Terus Melonjak, Benarkah Stay at Home Tidak Efektif?

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 27 Oktober 2020 - 09:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya serta menyusun regulasi untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona, salah satunya adalah himbauan untuk tetap berada di rumah. (Foto: nm.org)

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya serta menyusun regulasi untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona, salah satunya adalah himbauan untuk tetap berada di rumah. (Foto: nm.org)

Opiniindonesia.com – Sebaran Coronavirus Disease atau lebih dikenal sebagai Covid-19 semakin meluas dan mengkhawatirkan. Virus yang berasal dari Wuhan, China ini seolah memporak porandakan seluruh aspek kehidupan dunia. Bukan hanya aspek kesehatan saja, tetapi aspek lain seperti politik, sosial dan ekonomi juga terkena imbasnya.

Sudah 8 bulan sejak pertama kali Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus Covid-19 masuk ke Indonesia, namun hingga saat ini belum ada tanda – tanda ditemukannya titik terang. Selama pandemi ini, pemerintah telah melakukan berbagai upaya serta menyusun regulasi untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona, salah satunya adalah himbauan untuk tetap berada di rumah.

Jika melihat keadaan di luar sana, himbauan tersebut nampaknya hanya sekedar menjadi pajangan dan formalitas di awal saja. Masih banyak yang menganggap bahwa pandemi Covid-19 hanyalah sebuah konspirasi untuk menakut – nakuti semata atau ada juga menganggap dirinya memiliki imunitas yang tinggi, sehingga mereka cenderung menyepelekan keadaan ini.

Himbauan untuk Stay at Home sebenarnya adalah cara yang paling mudah dan simple untuk dilakukan, tapi mengapa banyak yang mengacuhkannya dan memilih nekat berkeluyuran?

Berdasarkan pengalaman dari kejadian – kejadian sebelumnya, pada umumnya orang Indonesia tidak akan takut sebelum mereka mengalaminya, tidak percaya sebelum mengenai dirinya sendiri. Mentalitas masyarakat Indonesia masih terbelakang dan perlu diasah untuk dapat membentuk sikap kepedulian sosial serta mindset yang lebih maju.

Pada awal pandemi Covid-19 ini masuk ke Indonesia, pemerintah pernah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid 1 dimana ruang gerak untuk beraktivitas di luar sangat minim.

Tidak hanya PSBB, ada juga Pembatasan Sosial Berkala Lokal (PSBL) di tingkat RW, kedua regulasi tersebut terbukti efektif menekan angka kasus positif Covid-19. Sayangnya penurunan tersebut tidak berlangsung lama, kurva Covid-19 kembali melonjak tajam ketika diterapkannya New Normal.

Sebagian masyarakat menyalahkan pemerintah atas lonjakan kasus positif yang terjadi secara masif. Pemerintah dinilai berbohong atas isu corona, tidak becus, tidak kompeten dalam menangani penyebaran virus dan hanya menjadi kambing hitam atas perbuatan masyarakatnya sendiri.

Padahal jika kilas balik ke belakang, pemerintah seringkali mengedukasi masyarakat untuk tetap berhati – hati.

Kebijakan New Normal pun harus tetap sesuai dengan protokol kesehatan dan mengutamakan tetap berada di rumah untuk memutus rantai penyebaran covid, namun rakyat “bebal” abai dan keras dengan egonya sendiri.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru