Lucu Juga, Wereng Coklat Buat Survai Elektabilitas Jokowi

- Pewarta

Selasa, 19 Maret 2019 - 13:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BENAR-benar edan dan sulit dercaya. Di satu daerah di Sumatera, Wereng Coklat (WC) melakukan survai elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin (Ko-Ruf). Tetapi, survai yang dilakukan Pak Coklat memang tidak sama seperti yang dilakukan oleh berbagai lembaga survai semisal LSI Denny JA, SMRC, Indikator Politik, Cyrus, dll.

Mengapa Wereng Coklat melakukan survai dan bagaimana caranya?

Begini cerita yang disampaikan oleh seorang calon anggota legislatif (caleg) DPRD dari partai pendukung petahana. Tentu tidak bisa saya sebutkan nama beliau. Caleg ini sudah sangat saya kenal. Menurut pengakuan beliau, partainya mendukung petahana tetapi untuk urusan pilpres dia mendukung Prabowo-Sandi.

Suatu hari, belum lama ini, kepala WC di kabupaten itu mengumpulkan sejumlah kepala desa. Mereka disuruh membagi-bagikan dana PKH (Program Keluarga Harapan). Beberapa hari setelah dibagikan, Pak Coklat ingin memastikan siapa pilihan warga di desa-desa yang banyak menerima uang PKH.

Dia bersama anak-buahnya turun langsung ke desa-desa tempat para penerima dana PKH itu bermukim. Pak Coklat dan para ‘researcher’-nya menanyai satu-satu warga desa-desa tsb tentang pilihan di pilpres April nanti. Hampir seratus persen menjawab Prabowo-Sandi.

Tentunya Pak WC mengharapkan agar warga menyebut nama Jokowi. Ternyata, para emak desa juga berani-berani sekarang. Mereka menyebut Prabowo.

Setelah selesai melukan survai, akhirnya Wereng menyimpulkan elektabilitas Jokowi di desa-desa dimaksud. Di satu desa ditemukan 0.7 persen. Di desa lain ada yang 0.5 persen, dan ada yang hanya 0.3 persen, dst. Tidak ada hasil survai mereka yang di atas 1%.

Singkat cerita, kepala Wereng Coklat kabupaten merasa kecewa. Kecewa terhadap ‘kepintaran’ warga dalam berpolitik. Semula mereka ingin mendengar Jokowi adalah pilihan warga penerima PKH. Karena mereka menjual PKH itu sebagai program Jokowi. Namun, akhirnya dipermalukan sekalian. Mereka dengan lantang menyebut pilihan mereka adalah Prabowo.

Survai itu dilakukan oleh Pak Coklat, seadanya. Jangan pula Anda bayangkan survai serius dengan istilah-istilah canggih seperti “multi-staged sampling”, “margin of error”, dlsb. Tetapi, mereka langsung bertanya ke warga di kampung-kampung yang banyak mereka suguhi dana PKH.

Rupanya, sampai begitulah militansi Wereng Coklat mendukung Jokowi. Padahal, semua ini melanggar sejumlah peraturan-perundangan.

[ Oleh : Asyari Usman, adalah penulis wartawan senior ]

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru