Terus untungnya di mana? Kalau ada untung “secara hukum dagang”, barangkali keuntunganya bisa buat bayar hutang atau bunganyalah, bukan malah nilep dana Haji dan BPJS.
Petahan, pesonamu sudah pudar. Masyarakat sudah tersadar dan punya nalar. Mana yang salah mana yang benar.
TimSes petahana, sekelas Erick Tohir saja, sudah kehilangan daya. Apa yang bisa dijual lagi ke masyarakat? Mau bilang Esemka mau release bulan Oktober tahun 9072? Mau bilang ekonomi meroket? Mau bilang stop impor padahal tambah gengsor?
Mau bilang stop hutang? Mau bilang $ di bawah 10 ribu? (Note: Soal hutang, kita harus salut sama SBY, karena di jamanya hutang ke IMF lunas! Dan NKRI punya harga diri lagi).
Akhirnya Eto pun mulai seruduk kiri seruduk kanan, mulai menyerang pribadi.
Pudarnya pesona petahana bukan karena lawan yang menyerang. Tapi karena tidak adanya antara kesesuaian pencitraan dan kenyataan. Karena tidak adanya realisasi dari janji.
Ayo para pemilih cerdas. Satukan tekad dan suara untuk Indonesia yang lebih baik, adil dan makmur. Tunjukan kalau kita bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Tunjukkan kalau kita tidak mau hidup di bawah bayang-bayang bangsa lain! (*)
[Oleh : Danke S. Priatna. Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik]






