Hal itulah yang diutarakan oleh Ahok dalam kanal youtube Poin baru baru ini, jadi wajar semua pihak merasa kebakaran jenggot, sampai membuat pernyataan bahwa Ahok harus dicopot segera dari komisaris utama Pertamina.
Bisa jadi Ahok juga sedang mengirim pesan penting selain ke Erick Tohir yang menerabas kewenangan komisaris, dia sedang mengirim pesan juga kepada Pemerintah, bayar hutang donk.
Padahal kalau terjadi gagal bayar oleh Pertamina apakah bukan celaka tiga belas?, karena pandemi covid 19 bukan saja mengancam nyawa manusia, akan tetapi mampu membuka borok perusahaan yang dikelola tidak efisien alias dugaan praktek hengki pengkinya kental.
Contohnya pada saat Pertamina pada tahun 2016 mengakuisisi saham perusahaan Maurel et Promp Perancis, yaitu pada saat akuisisi Fair Value 2.72 Euro per lembar, namun ketika akuisisi done dengan harga 4.2 Euro per lembar.
Saat ini dibulan September 2020 harga saham M and P tinggal 1.62 Euro per lembar, tak kurang Pertamina sudah mengeluarkan 700 juta Euro untuk hanya akuisisi sahamnya mencapai 72, 65 % dan capex nya.
Ternyata asetnya di tiga negara Gabon, Tanzania dan Nigeria dengan total produksi hanya sekitar 24.000 barel perhari saat itu, woow alangkah beratnya beban keuangan Pertamina akibat langkah bisnis ini.
Anehnya kenapa harus mencapai 72, 65 % sahamnya dikuasai Pertamina, lazimnya paling tinggi 51 %, apalah yang dikuasai Pertamina hanya pada sahamnya saja, bukan asetnya.
Laporan keuangan bisa saja dapat direkayasa, tetapi kewajiban bayar hutang pokok dan bunga tidak dapat dihindari. Ahok dan rakyat Indonesia tidak bisa dibohongi.
Oleh : Yusri Usman, Direktur Eksekutif CERI.
Baca Juga:
Dorong Revolusi Pangan Global, Teknologi “Food Processing” Jepang Tampil di Panggung Dunia
Riset LPEM FEB UI: Pindar AdaKami Jadi Bantalan Saat Masyarakat Hadapi Tekanan Ekonomi
Halaman : 1 2





