Oposisi atau Rekonsiliasi

- Pewarta

Selasa, 9 Juli 2019 - 08:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Pemuda Pekalongan bernama Wahono bunuh diri. Dia minum air sabun dan gantung diri. Karena putus cinta. Kalah saingan. Emosi. Frustasi. Marah.

WHO memperkirakan ada 1 kasus bunuh diri setiap 40 detik. Mereka membuat keputusan dengan emosi ngga stabil. Makanya ada proverb; “Don’t make decisions when you’re angry”.

Brian Lee, seorang manager product Lifehack mengatakan, “These days, being too angry is a complete waste of energy”.

Terlebih di arena political struggle. Setelah 350 tahun, Belanda ditekuk Jepang hanya dalam perang 1 minggu. Terkaing-kaing, ngibrit dan keluar dari Nusantara.

Aktifis kemerdekaan pecah dua kubu. Sukarno-Hatta milih metode “Koperatif”. Sedangkan Sjarir dan Amir Sjarifoeddin memutuskan terus merilis perlawanan terhadap fasis Jepang. Lewat jalur underground.

Pastinya, para pengikut hard-liner Golongan Non-Koperatif Musso, Sjahrir, Amir Sjarifoeddin rame mengecam dan hujat-hujat Sukarno-Hatta.

Amir Sjarifoeddin dikenal dekat dengan Musso (PKI) sejak tahun 1935. Dia mendirikan Gabungan Politik Indonesia (GAPI) yang bersifat koperatif Belanda melawan Fasisme.

Jepang menggulung aktifitas perlawanan. Amir Sjarifoeddin ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Kabar vonis tersebut sampai ke telinga Sukarno-Hatta. Lalu mereka mengintervensi sehingga hukuman mati diubah menjadi hukuman seumur hidup dan dibebaskan setelah Indonesia merdeka.

Entah apa jadinya bila saat Jepang masuk, Sukarno-Hatta berpikir dengan emosi dan baper. “You can’t control your emotions, but you can control your response,” kata Penulis John Weirick.

Oposisi dan rekonsiliasi jadi tema sentral pasca Putusan MK yang menangkan Paslon Jokowi-Makruf.

Di Medsos, rame seruan-seruan oposisi. Di jalanan sepi-sepi saja. Fadli Zon mengatakan grassroot punya logikanya sendiri. Survei Andre Rosiade menghasilkan data 60% pendukung Prabowo-Sandi terima putusan MK.

Teori politik mengharuskan sebuah partai bisa mengambil posisi oposisi bila next periode ingin menjadikan ketua umumnya sebagai Capres di next periode.

Hendarsam Marantoko, lawyer yang sangat berperan mengeluarkan Eggi Sujana dari penjara Polda, mengatakan “Ada gerakan kader dari parpol ex Koalisi Adil Makmur yang mendeskreditkan Partai Gerindra dan Pak Prabowo terkait isu rekonsiliasi supaya rencana masuk kabinet yang sudah mereka jalankan setelah quick count dapat berjalan soft landing”.

Hendarsam Marantoko yang juga kader Partai Gerindra menutup kultwitnya dengan “Cieee…”

Saya ngga tau partai apa yang dia maksud. Tapi jelas ada intrik. Artinya, partai ini berusaha mencegah Gerindra masuk kabinet dengan berbagai modus provokasi dan ancam mengancam. Karena bila Gerindra menerima ajakan Jokowi masuk pemerintahan, itu sama saja mengurangi jatah partai tersebut.

Oposisi atau rekonsiliasi harus diputuskan dengan kepala dingin. Jangan emosi. Jangan takut intimidasi. Jangan pake marah. Lima tahun lagi, petanya berbeda.

Saya lebih memilih sikap tegak lurus bersama Pa Prabowo-Sandi. Loyalty is Royalty. Apa pun yang mereka putuskan nanti, saya akan dukung penuh. Karena saya yakin mereka lebih tau yang terbaik untuk negeri ini.

Oleh: Zeng Wei Jian. Penulis adalah Aktivis Tionghoa non muslim Indonesia.

Opini ini sudah dipublikasikan Kontenislam.com.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”

Rabu, 29 Apr 2026 - 10:22 WIB