Pemerintahan Jokowi Gagal Memberikan Rasa Aman dan Nyaman di Papua

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 10 Desember 2018 - 15:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AKSI PEMBANTAIAN yang diluar perikemanusian terjadi di Papua. Sebanyak 31 orang tewas terbunuh dengan sia-sia. Ke- 31 orang yang tewas ini adalah pekerja konstruksi dari PT. Istaka Karya (BUMN), yang sedang melaksankan pembangunan jembatan Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga Papua.

Kejadian ini berlangsung diperkirakan terjadi pada tanggal 1 Desember 2018 lalu. Berdasarkan informasi pekerja yang lolos dari pembantaian tersebut, terdapat 1 orang anggota TNI yang menjadi korban. Pos TNI disinyalir juga diserang oleh kelompok pengacau keamanan bersenjata yang dipimpin oleh Egianus Kogoya.

Dalam hal ini dapat dikatakan pemerintah belum berhasil memberikan rasa aman dan nyaman di Papua. Keistimewaan dan perlakuan khusus terhadap Papua oleh pemerintah selama ini, khususnya dari sisi infrastruktur dan alokasi anggaran yang besar, ternyata belum menjawab persoalan substansial yang terjadi di Papua.

Sepertinya pemerintah harus merumuskan kembali perencanaan program pembangunan di Papua. Pesoalan pembangunan fisik infrastruktur ternyata tidak berbanding lurus dengan pembangunan manusia papua. Sepertinya dapat patut diduga ada pesan khusus atas apa yang terjadi, pembunuhan 31 orang di Kabupaten Nduga ini.

Pertama, mungkin saja masyarakat Papua memberikan pesan khusus kepada pemerintah, bahwa pembangunan infastruktur di Papua bukan merupakan jawaban atas persoalan utama di Papua.

Karena beberapa hari lalu Presiden Joko Widodo baru saja mengunjungi Papua untuk memonitor progres pembangunan Jalan Trans Papua. Selama ini pula Presiden Joko Widodo sudah sering kali mengunjungi Papua.

Yang kedua, mungkin seyogyanya yang dilakukan oleh pemerintah adalah membangun SDM (manusia) Papua terlebih dahulu. Sebelum melakukan pembangunan fisik infrastruktur.

Kejadian pembantaian pekerja konstruksi di Papua ini, diprediksi akan membuat kekhawatiran para pekerja pendatang yang berasal dari luar Papua.

Kemungkinan akan berdampak pada muncul rasa dan sikap enggan bagi para pekerja yang berasal dari daerah lain untuk bekerja di Papua. Tentu hal ini akan membuat pembangunan Papua menjadi terhambat. (*)

[Oleh : Suhendra Ratu Prawiranegara. Penulis adalah Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, dan anggota Presidium Pusat GNPP (Gerakan Nasional Prabowo Presiden) #2019PrabowoSandi di Jakarta]

(*) Untuk membaca tulisan Suhendra Ratu Prawiranegara yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru