Berpadu untuk meraih kesuksesan. Karena bergerak tanpa dipikir hanya mubazir. Seperti orang gila, bergerak ke mana-mana tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
Belakangan ramai di medsos. Konon PKI terus mematangkan strategi. Mereka bergerak dalam sunyi. Menelusup di semua lini kehidupan.
Yang di legislatif merekayasa undang-undang agar memungkinkan hidup kembali. Yang di eksekutif memberi peluang kawannya meraih kesempatan. Jabatan dan ekonomi. Yang di budaya berkreasi nyanyian dan puisi.
Gerak itu universal. Siapapun yang melakukan akan meraih apa yang diinginkan. Tidak peduli agama dan ideologinya.
Juga tidak pandang bulu keshalihan dan kenaifannya. Gerak untuk maksiat akan mendapat balasannya. Gerak untuk amal shalih juga memperoleh pahalanya.
“Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasulnya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu” (At Taubah: 105)
Bergerak itu berarti beramal. Untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Untuk tetangga dan masyarakat juga untuk kepentingan umat dan manusia. Karena tanpa gerakan, manusia sebenarnya telah mati sebelum jantungnya berhenti.
Ashabul kahfi juga begitu. Gerakan tauhidnya dibatasi penguasa. Maka mereka lari ke luar negeri dan bersembunyi di dalam gua. Berkah gerakan yang tidak mengenal lelah itu mereka diabadikan Allah.
Dikenang manusia sampai kapanpun. Sebagai pelajaran keberanian dalam berjuang. Keuletan mempertahankan hidup dan kekompakan di tengah kesempitan.
Baca Juga:
60 Seconds to Tokyo: Sensasi Japanese Street Food di Lebih dari 130 Archipelago Hotels di Indonesia
Covid-19 membatasi manusia untuk bergerak. Tetapi manusia punya akal sehingga dapat mensiasati dan merekayasa keadaan. Agar tetap dapat bergerak dan tetap produktif. Meskipun dalam keterbatasan.
Oleh : Dr. Muh. Nursalim, Eseis dan peneliti sosial keagamaan.





