Sedih Indonesia Bicara Hanya 1 Menit dalam Forum KTT G20

- Pewarta

Selasa, 2 Juli 2019 - 09:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Sayang banget di forum sepenting G-20 presiden RI cuma pidato satu menit. Padahal KTT G20 kali ini penuh dinamika. Jepang dan Cina mulai nyadar sebagai sesama Asia kudu kompak.

Siapa tahu Amerika dan Uni Eropa bakal ngadalin mereka. Makanya di Beijing sebelum KTT G20 di Osaka, Shinzō Abe (PM Jepang) dan Xi Jinping (Presiden RRC) sepakat mereka berdua kudu kompak pelopori perdamaiam dan kesejahteraan. Ya itu bahasa retorikanya sih.

Tapi ini juga bisa runyam buat dunia kalau Cina dan AS terus kompakan karena Jepang yang sekutu AS sekarang baikan ama Cina.

Buat ketiga negara memang sama sama happy. Buat Indonesia bisa hancur mina. Belum lagi India yang semakin solid satu barisan sama Jepang pelopori Indo Pasifik.

Sehingga dihitung baik Amerika maupun Cina. Karena India bareng Rusia dan Cina gabung di persekutuan blok ekonomi BRICS. Saingan kubu AS dan Eropa.

Uni Eropa, Prancis dan Jerman sekarang motor utama setelah Inggris keluar. Rusia dam Uni Eropa makin akrab.

Terus Indonesia gimana? Masak pidato aja semenit. Dalam perang diplomasi pidato di rapat pleno bisa mewarnai hasil KTT lho.

Sebagai pengkaji hubungan internasional, bukan prihatin, tapi sedih. Bukan sedih sama Presiden atau Menlunya. Tapi sedih kok Indonesia cuma penonton pasif di tengah berlangsungnya pergeseran geopilitik dunia.

Sebagai pendukung 02 jangan dikira saya senang ngeliat performance presiden petahana yang pesaing 02. Sama sekali nggak. Justru merasa sedih dan gemes.

[Oleh: Hendrajit. Penulis adalah Pengkaji Geopolitik, Direktur Eksekutif Global Future Institute]

Opini ini sudah dipublikasikan Portal-islam.id.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru