Peristiwa 17 Oktober 1952, Obsesi Militer yang Impikan Kudeta

Avatar photo

- Pewarta

Minggu, 11 Oktober 2020 - 22:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peristiwa 17 Oktober 1952 adalah peristiwa di mana KSAD dan tujuh panglima daerah meminta Dewan Perwakilan Rakyat Sementara dibubarkan. (Foto : wikimedia.org)

Peristiwa 17 Oktober 1952 adalah peristiwa di mana KSAD dan tujuh panglima daerah meminta Dewan Perwakilan Rakyat Sementara dibubarkan. (Foto : wikimedia.org)

Menanggapi usulan itu presiden mengatakan membutuhkan pertimbangan dari berbagai pihak dalam memerintah.

Peristiwa itu berakhir dengan ikrar untuk mengakhiri konflik di tubuh militer dan dipecatnya AH Nasution karena Soekarno mengganggap peristiwa itu sebagai makar.

OBSESI TENTARA

Gerakan 17 Oktober 1952, oleh Gatot Subroto yang berlinangan air mata di hadapan pusara Jenderal Sudirman berharap peristiwa itu sebagai yang pertama dan terakhir kali.

Kendati demikian dalam perjalanan sejarah militer melakukan makar merupakan obsesi yang sulit dihilangkan. Makar di sini dimaksudkan sebagai upaya menggusur kekuasaan resmi.

Peristiwa 17 Oktober 1952 itu pula yang menginspirasi lahirnya Supersemar. Saat krisis tahun 1965 dan Soekarno yang sudah menyingkir ke Istana Bogor, dikejar oleh tiga perwira tinggi militer (Basuki Rahmat, Jusuf, dan Amir Mahmud).

Berbeda dengan Peristiwa 17 Oktober 1952 yang mengerahkan tank, menurut berbagai literatur, ketiga perwira tinggi itu menodongkan stengun untuk memperoleh Supersemar.

Bahkan sebelum tahun 1966 ada empat kudeta kecil menurut Teori Kudeta. Dan setelah tahun 1966 ada tiga kudeta lagi berdasarkan teori tersebut. Yang pertama ,para ahli pengamat kudeta, mengkategorikan Malari sebagai kudeta yang gagal yang didalangi Soemitro.

KUDETA TETAP MENJADI INSPIRASI

Edward Luttwak (Kudeta: Teori dan Praktek Penggulingan Kekuasaan, 1999) membedakan antara putsch (biasanya terjadi pada saat perang atau pascaperang), pronounciamiento (kudeta militer ala Spanyol/Amerika Latin) dengan coup d’Etat (kudeta).

Yang pertama dilakukan satu faksi angkatan darat, yang kedua oleh seluruh tentara, sedangkan yang terakhir selain militer bisa pula melibatkan orang sipil.

Menurut Asvi Warman Adam, teori itu bisa ditujukan terhadap tindakan Prabowo pada Mei 1998. Beberapa karikatur menyentil kegiatan Prabowo mendatangi istana dan pengerahan pasukan saat itu menjurus kepada kudeta. Benarkah demikian, apalagi ketika menghadap Habibie , pistolnya sempat diambil oleh pengawal presiden.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru