Setidaknya, ada tiga tuduhan kepada Anies. Pertama, gara-gara Jakarta PSBB, IHSG turun, katanya. Mari kita cek fakta. Senen, 14 September dimana hari pertama PSBB diberlakukan lagi dengan berbagai penyesuaian, justru IHSG bergeliat naik hingga 2,34 persen.
Saham BRI ikut menguat 4,62 persen. Telkomsel menguat 2,14 persen. Bahkan ICBP punya Salim group juga menguat 2,44 persen. Ini data. Salahkan Anies?
Kedua, PSBB diduga akan menyulitkan warga Jakarta. Dengan PSBB, warga Jakarta akan makin sulit hidupnya. Apakah tuduhan ini berbasis data? Analisis obyektif atau imajinatif?
Di Jakarta, ada 3,6 juta KK gak punya tabungan. Maka, mereka diberikan bansos. Beberapa bulan ini, Anies telah menyiapkan anggaran bansos sebesar 900 M per dua pekan untuk 3,6 juta warga DKI. Sebulan 1,8 T. Jadi, relatif aman. Ini sudah berjalan. Salahkan Anies?
Jika Anies gak tarik rem darurat PSBB, Jakarta bisa collaps. 77 persen ruang isolasi rumah sakit di DKI sudah terpakai. 83 persen ruang ICU sudah terisi. Ini data 6 september lalu. Sisanya, gak akan menampung jika pasien terus bertambah secara masif. Lalu, bagaimana nasib mereka? Mau mati di jalanan?
Ketiga, dengan PSBB, Anies dianggap sengaja memperburuk ekonomi nasional agar Jokowi segera jatuh. Ini terlalu jauh imajinasinya. Di otak orang-orang ini sepertinya sudah kebayang Anies itu presiden masa depan. Lalu mereka takut kalau nahkoda kapal mereka akan diganti. Sebuah ketakutan yang berlebihan.
Kalau pandemi tak serius diatasi, tapi fokus hanya pada ekonomi, maka Indonesia akan gagal dua-duanya. Kesehatan gak pulih, ekonomi makin terpuruk. Ibarat ngisi ember bocor. Bansos terus diberikan, UMKM dan korporasi disuntik dana, tapi penyebaran virus gak dibatasi.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya






