Jika ada anak anda yang sakit, anak anda yang lain ditabrak kereta lalu mati, masihkah anda bisa berpikir politis? Ini yang seringkali tak terjangkau oleh otak para pengkritik Anies.
Kira-kira kalau dinarasikan begini: gak urus dengan 2024, yang penting warga Jakarta selamat. Selamat nyawanya, dan kebutuhan ekonominya bisa diatasi. Gak peduli orang setuju atau tidak, karena tanggung jawab warga DKI ada di pundak seorang gubernur sebagai kepala daerah.
Inilah yang membedakan Anies dengan para pengkritiknya. Anies mengambil kebijakan dengan data dan rasa. Umumnya, para pengkritik gak peduli data, dan gak ada rasa. Di ujung, kebenaran akan terbuka. Ini sudah berulangkali terbukti.
Para pengkritik sangat emosional. Kelebihan Anies, selalu bisa menjaga emosinya. Tenang dan tetap bersahaja. Kata dan sikapnya terukur. Itupun tetap dikritik, pinter mengolah kata, katanya.
Mestinya, para pengkritik belajar kepada Anies bagaimana mengolah kata yang baik. Agar telinga para pendengar juga bisa menerima dengan baik. Kalau Kata-katanya kotor, tentu hanya telinga kotor yang bisa menampungnya. Ini hukum psikologi.
Mental dan sikap yang gak seimbang antara Anies dengan para pengkritiknya justru seringkali menjadi poin positif buat Anies. Kalau Tyson lawan petinju amatir, kira-kira sudah bisa ditebak kemana dukungan penonton akan diberikan. Ini logika dan analogi yang paling dasar.
Di depan penguasa, Anies memang jauh dari performence “good looking” . Tapi, di mata warga DKI, Anies mendapat apresiasi, karena kekuatan leadershipnya.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya






