PHOBIA KHILAFAH?

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 5 Agustus 2019 - 17:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ANDA keliru ketika membenci khilafah, mengajak umat menjauhi khilafah, karena semakin Anda memfitnah khilafah, Anda banyak menyebut khilafah, justru umat akan tertarik pada khilafah dan mencari tahu khilafah yang sesungguhnya, bukan khilafah versi Anda.

Dalam tulisan ini contohnya, Anda ingin menghentikan membaca khilafah, tetapi tak sanggup berhenti membaca tulisan ini. Dan itu, membuat Anda terus menyebut khilafah, walau mungkin hati Anda membenci khilafah, tapi lisan dan fikiran Anda akan semakin terpaut pada khilafah.

Khilafah anda fitnah, itu tak akan membuat umat menjauhinya. Karena khilafah itu bukan dari umat, khilafah itu dari Rab pemilik umat. Maka dzat yang mengutus khilafah, tak akan mungkin kalah dengan makhluk yang membenci khilafah.

Anda tidak mungkin phobia pada khilafah, kecuali itu membuat Anda kembali menyebut khilafah. Meski agitasi Anda ingin menjauhkan umat dari khilafah, tapi Anda justru membuat umat fasih melafadzkan kata khilafah. Tidak percaya? Mari kita uji.

Biasanya, cara Anda menjauhkan khilafah dari umat, adalah dengan membuat ujaran fitnah pada khilafah. “Jangan mau dibohongi khilafah”, “khilafah sudah expired”, “itu khilafah ala HTI”, “khilafah penuh sejarah berdarah”, “khilafah radikal”, “khilafah negara bar-bar”, “khilafah sudah usang”, “khilafah cuma romantisme sejarah”, “khilafah cuma mimpi”, “khilafah hanya ilusi”, “khilafah memecah belah”, “khilafah ancaman nyata”, “khilafah meniadakan perbedaan”, dst. Sadar tidak? Kampanye sesat Anda pada khilafah, telah membuat umat ini fasih menyebut dan melafadzkan khilafah. Bukan Khofifah, bukan khilafiyah, bukan pula khulalah.

Anda membuat umat semakin dekat dengan Lafadz khilafah. Kedekatan itu, menimbulkan rasa penasaran pada khilafah, keinginan mengkaji khilafah, semakin memahami khilafah, makin rindu pada khilafah, turut memperjuangkan khilafah dan akhirhya sampai pada membaiat seorang Khalifah sebagai pertanda berdirinya Daulah khilafah. Hebat bukan? Itu salah satunya karena andil Anda.

Jadi, kebencian Anda pada khilafah tak menghalangi khilafah diperbincangkan umat, bahkan membuat khilafah semakin viral. Justru itu hanya akan membuat khilafah makin populer, makin dirindukan, makin diperjuangkan.

Menghalangi khilafah itu sama saja menghalangi matahari terbit. Ufuk khilafah telah nampak, sebentar lagi fajar akan menyingsing. Anda keliru, ini sudah menjelang pagi, bukan senja menuju gelapnya malam. Kami menunggu pagi, sementara Anda menjanjikan mimpi melalui gelapnya malam. Tidak mungkin bisa!

Ah, khilafah itu kata yang paling ajaib di era now. Paling viral, bahkan dalam tulisan ini kata khilafah paling banyak disebut. Kata khilafah mendominasi artikel ini.

Sejak awal hingga akhir, artikel ini memang dibuat dengan dominasi kata khilafah. Sesekali tidak menyebut khilafah, tapi pada konklusi atau penyebutan kalimat lain mengaitkan kata khilafah.

Saya coba menghitungkan untuk Anda, dalam artikel ringan ini telah disebut khilafah sebanyak 54 kali. Ini belum termasuk tiga kata khilafah dalam paragraf penutup ini. Sekali lagi, khilafah !

[Oleh: Nasrudin Joha. Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik]

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru