Jika dari awal mengambil jalan konsisten “bebas aktif” mungkin konflik AS-RRC menjadi keuntungan besar bagi Indonesia. Namun kondisi itu kini berbeda.
Pilihan sulit di tengah pandemi dan krisis ekonomi. Kedatangan Pompeo bukan membawa berkah buat Pak Jokowi tetapi simalakama. RRC tidak akan tinggal diam.
Daleman Istana sudah diketahui. Jika Istana belok belok dalam bermain mesti ada bayaran. Mungkin mahal. Jokowi bukan semakin kuat, tetapi bisa goyah.
Ambivalensi selalu kalah di ujungnya dan loyalitas yang diragukan akan dieliminasi. Amerika yang menekan dapat memberi pil pahit bagi rezim.
Dulu Michael IMF datang Januari 1998 dan Mei 1998 Soeharto jatuh. Kini Oktober 2020 Michael AS datang entah jatuh atau bertahankah Jokowi. Yang jelas rakyat sudah mulai mendesak.
Pompeo sukses memainkan panggung diplomasi. Memang langkah kelas dunia. Sekali datang Natuna sudah di tangan.
Indonesia dibuat kebingungan menghadapi jasa-jasa investasi dan “debt-trap” RRC. Jokowi bukan figur idealnya AS, Jokowi juga mulai diragukan sebagai figur kuat pengaman kepentingan RRC.
Jokowi tidak aman. Jokowi tidak mengakar. Kasus RUU HIP dan UU Omnibus Law menempatkan Jokowi berhadapan dengan rakyat dan umat. TNI yang tergerus oleh Polri juga rentan untuk tetap menjadi pilar Jokowi.
Pompeo belum banyak bergerak tetapi sudah membuat belingsatan. Menusuk pertahanan yang memang dari dulu juga lemah.
Pompeo sukses. Moga pak Jokowi tidak lari ke gorong gorong.
Oleh: Rizal Fadilah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Halaman : 1 2






