Di lain pihak upaya mengakomodasi kekuatan oposisi setengah-setengah justru menimbulkan kecemburuan di kalangan sebagian massa pendukung, parpol lawan, dan massa lawan.
Mereka inilah yang sekarang tergabung dalam gelombang massa anti UU Omnibus Law.
Mungkin bekerjasama dalam skenario kelompok yang kecewa dan terancam, partai politik yang ingin menjadi unggulan pada 2024, dan lawan politik yang sekarang direkrut dalam kekuasaan.
MENGHADAPI PERLAWANAN
Perlawanan dari oposisi ini membuahkan prningkatan ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah Jokowi-Maaruf ,yakni hanya 45,2% responden yang puas terhadap kinerja Jokowi-Ma’ruf, sebaliknya 52,5% responden menyatakan tidak puas menurut Litbang Kompas.
Ketidakpuasan masif atas kinerja pemerintahan Jokowi- Maaruf membuktikan mungkin tidak hanya melemahnya relasi sosial, tetapi pemerintah telah menjalankan model kekuasaan hegemonik.
Hegemoni adalah upaya mempertahankan dominasi dan upaya mensubordinasi mayoritas secara terus menerus.
Hegemoni ditengarai oleh sikap keras kepala rejim dan pepatah “anjing menggonggong ,khafilah tetap berlalu”. Pemegang kendali dari segala upaya itu disebut sebagai kelas hegemonik.
Adanya kelas hegemonik ini bisa dirasakan pada saat kritik masyarakat tidak lagi didengar.
Anggota kelas hegemonik memandang hanya merekalah yang layak berada di lingkar kekuasaan, sedang elit lain tidak memiliki kimia yang sama menjadi kelas superior yang bekerja diam-diam dengan penuh kelicikan.
Mereka merasa memiliki previlege sebagai kelas berbeda dan menempatkan mayoritas berada di bawah kendalinya.





