MEMAKAI KACAMATA KUDA
Dalam mempertahankan hegemoni , salah satu strateginya ialah mengkonstruksi pendapat umum berdasarkan kepentingannya saja.
Dalam kasus kritik atas Omnibus Law pemerintah mengkonstruksi opini publik bahwa kita membutuhkan investasi untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Namun ternyata pihak mayoritas yang disubordinasi tidak berpikir demikian.
Hal inilah yang melahirkan gelombang resistensi. Karena masyarakat rupanya lebih membutuhkan keadilan sosial.
Apalah artinya investasi merajalela, kalau tidak menghasilkan kesejahteraan masyarakat. Celakanya kalau resistensi berupa gerakan massa tersebut ditunggangi kepentingan politik lain untuk penggulingan kekuasaan.
Berdasarkan pengalaman, gerakan resistensi ini sulit dihentikan, kecuali dilakukan kompromi substansial.
Sedangkan pola kekuasaan hegemonik dengan kacamata kudanya sulit ditransformasi dengan cepat. Karena itu ketegangan antara kelas hegemonik dan gerakan resistensi diperkirakan masih berlangsung lama.
JOKOWI SENDIRIAN MENANGGUNG BEBAN
Saat ini merupakan periode krisis terberat dalam pemerintahan Jokowi-Maaruf. Pandangan kekuasaan yang rigid diimplementasikan saat Indonesia terserang pandemi Covid 19.
Jokowi-Maaruf kini berhadapan dengan rakyat yang putus asa, yang mungkin akan menuai perlawanan jika model kekuasaan hegemonik tetap digunakan.
Dalam menghadapi perlawanan Jokowi tidak lagi memiliki basis pendukung yang loyal (relawan) karena relasi sosialnya yang telah rusak.






